Selasa, 30 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Belajar dari Gempa Turki, Dosen UGM dan IPB University Ingatkan Soal Ini

Gempa bisa terjadi kapan saja. Para ilmuwan mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan rencana evakuasi mandiri dan membangun rumah tahan gempa dengan ilmu geoteknik.

Rabu, 8 Februari 2023
A A
Rambu evakuasi tsunami di Bandara YIA. Foto bmkg.go.id.

Rambu evakuasi tsunami di Bandara YIA. Foto bmkg.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dosen Geologi UGM, Dr. Wahyu Wilopo mengatakan ada banyak faktor yang mempengaruhi risiko tingkat kerusakan bangunan yang begitu besar dalam bencana gempa bumi di Turki pada 6 Februari 2023 pukul 04.17 waktu setempat itu. Seperti diketahui, berdasarkan laporan Badan Survei Geologi Amerika (USGS), pusat gempa di Turki berkekuatan Magnitido 7,8 itu berada 23 kilometer timur Nurdagi, Provinsi Gaziantep, Turki dan pada kedalaman 24,1 kilometer. Ribuan orang meninggal dan belasan ribu warga terluka akibat gempa bumi itu.

Pertama, magnitude gempa cukup besar. Kedua, jarak yang meliputi tingkat kedalaman pusat gempa yang dangkal dan jarak horizontal ke lokasi. Ketiga, durasi gempa. Keempat, kondisi tanah dan batuan di lokasi. Kelima, ada tidaknya jalur patahan. Keenam, kekuatan bangunan yang ada.

“Episentrum gempa juga berada di daratan,” kata Wahyu pada 7 Februari 2023.

Baca Juga: Komisi IV DPR Pertanyakan Izin Angkut Kayu Mangrove untuk Arang di Kepri

Bahkan kejadian gempa yang besar terjadi bukan saat gempa pertama, tapi pada kejadian gempa selanjutnya. Gempa yang terjadi pada pukul 4.17 pagi dengan magnitude lebih rendah. Kemudian gempa susulan pada pukul 4.28 dengan magnitude 6,7. Barulah gempa pukul 13.24 siang bermagnitude paling besar, Mag7,8.

Kejadian gempa yang berturut-turut dengan magnitude yang cukup besar ini, menurut pengamatan Wahyu justru lebih merusak dibandingkan kejadian gempa yang hanya terjadi sekali atau gempa yang agak besar diikuti dengan gempa-gempa kecil.

“Masyarakat juga harus waspada terhadap gempa susulan yang mungkin magnitudonya lebih besar dari gempa pertama. Seperti kasus gempa di Turki atau di Lombok pada 2018,” kata Wahyu.

Baca Juga: Korban Meninggal Gempa Turki Sudah Mencapai 4 Ribu Lebih

Terkait kondisi bangunan di Turki secara umum sudah lebih baik dalam hal kekuatan dibandingkan bangunan di Indonesia. Namun kejadian gempa yang cukup besar yang berlangsung berkali-kali akan menyebabkan terjadinya keruntuhan.

“Sebagian besar tipikal bangunan di Turki itu bertingkat, bukan satu lantai. Jadi lebih rentan runtuh dan menimbulkan banyak korban,” jelas Wahyu.

Salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian gempa di Turki dan Suriah adalah harus selalu waspada terhadap kejadian gempa bumi di Indonesia. Pertama, bentuk kewaspadaan yang harus dilakukan adalah masyarakat membangun bangunan tahan gempa. Salah satu contoh bangunan tahan gempa yang sederhana adalah RISBA yang dikembangkan akademisi Teknik Sipil dan Lingkungan UGM.

Baca Juga: Memitigasi Bencana di Garis Pantai Kota Padang

Kedua, masyarakat juga harus memiliki rencana evakuasi mandiri apabila terjadi gempa. Caranya adalah dengan mengenali tempat-tempat berlindung dan jalur evakuasi menuju tempat aman.

Ketiga, melakukan pemetaan sesar-sesar aktif yang menjadi pemicu terjadinya gempa bumi secara lebih detail untuk menginventarisasi daerah berpotensi gempa bumi. Pengembangan wilayah juga harus mengacu pada informasi bencana, termasuk gempa bumi.

“Harus ada rekomendasi kekuatan bangunan yang sesuai dengan ancaman gempanya,” imbuh Wahyu.

Baca Juga: Longsor di Tambang Pasir Gekbrong 3 Pekerja Meninggal, BNPB Ingatkan Dampak Gempa Cianjur

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: evakuasi mandirigempa TurkiGeologi UGMilmu geoteknikIPB University

Editor

Next Post
Patung kepalan tangan "Wadas Melawan" di Desa Wadas. Foto dok. Gempadewa.

Satu Tahun Represi, PTUN Putuskan Tambang Andesit di Wadas Tak Berkekuatan Hukum

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media