Teknik pengukuran produktivitas primer kotor yang digunakan meliputi teknik hasil panen, oksigen, dekomposisi sampah, radioaktif, serta penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai GPP sebelum, selama, dan setelah erupsi Gunung Merapi.
“Kami juga ingin mengetahui koefisien pemadaman akibat erupsi dengan pendekatan nilai GPP, untuk merumuskan perubahan komponen neraca radiasi gelombang pendek akibat erupsi,” tambah Lilik.
Dari pemantauan satelit Aqua dan Terra MODIS, Lilik memperoleh data yang menunjukkan penurunan produktivitas primer kotor yang signifikan pada erupsi tahun 2006, 2010, dan 2023.
Baca Juga: Pantai Selatan DIY Rawan Abrasi dan Sedimentasi
Pada erupsi 2006, penurunan produktivitas primer kotor sebesar 3 persen tercatat antara pra dan pasca-erupsi. Lalu pada erupsi 2010, penurunan produktivitas primer kotor mencapai 36 persen. Sedangkan pada erupsi 2023, penurunan produktivitas primer kotor sebesar 11 persen.
“Perbedaan ini mungkin disebabkan energi kalor, jangkauan luncuran lahar panas, dan awan panas yang lebih besar pada erupsi 2010,” kata Lilik.
Faktor lain yang memengaruhi penurunan produktivitas primer kotor adalah waktu erupsi yang bertepatan dengan posisi matahari terhadap bumi, serta jenis tanaman yang terlibat dalam proses fotosintesis. Penelitian dilakukan dengan mengambil data di Taman Nasional Gunung Merapi. [WLC02]
Sumber: BRIN
Discussion about this post