“Namun, di beberapa wilayah Jabodetabek, yang ada justru Room for People, di mana banyak pemukiman dibangun di sekitar sungai,” ujar dia.
Menurut dia, penting koordinasi antarwilayah dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), terutama untuk sungai yang melewati lebih dari satu kabupaten atau kota. Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2012, bahwa pengelolaan DAS harus dikoordinasikan oleh gubernur agar kebijakan di hulu dan hilir selaras, termasuk dalam penerapan aturan konservasi tanah dan air.
Peran riset dan inovasi mitigasi banjir
Guna mengatasi permasalahan banjir, BRIN telah melakukan berbagai riset dan inovasi. Termasuk pengembangan sistem informasi danau, model peringatan dini berbasis data dan kecerdasan buatan (AI), serta pemetaan daerah rawan banjir dengan pendekatan polder system.
“Saat ini, kami sedang mengembangkan sistem informasi danau. Meskipun masih berfokus pada danau prioritas, nanti bisa diterapkan untuk memetakan setu-setu kecil di Jakarta yang berperan sebagai tempat penampungan air sementara,” jelas Yus.
Sistem peringatan dini juga menjadi aspek penting dalam mitigasi banjir. BRIN bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Bristol University di Inggris, untuk mengembangkan sistem prediksi berbasis AI dan data real-time. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi prediksi banjir dan memberikan peringatan lebih cepat kepada masyarakat.
Dalam jangka panjang, Yus menekankan pentingnya penerapan sistem polder, seperti yang telah diterapkan di Belanda. Saat ini, Jakarta sudah merancang 66 sistem polder dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 2030 yang diharapkan dapat mengelola banjir dengan lebih baik.
Ia juga menyoroti perlunya penghentian eksploitasi air tanah yang menjadi penyebab utama penurunan muka tanah dan memperparah risiko banjir.
Di sisi lain, Yus mengajak masyarakat untuk berkontribusi dalam upaya mitigasi banjir dengan melakukan tindakan sederhana, seperti menanam pohon di sekitar rumah. Setiap pohon yang ditanam bisa membantu mengurangi limpasan air hujan dan memperlambat aliran air menuju drainase.
“Jika setiap rumah menanam satu pohon saja, dampaknya bisa signifikan dalam mengurangi risiko banjir,” kata dia.
Yus juga berharap ada dukungan yang lebih kuat terhadap riset dan inovasi dalam mitigasi banjir.
“Kami sudah memiliki banyak solusi berbasis sains, tetapi implementasinya masih terkendala berbagai faktor, termasuk pendanaan. Jika riset dan teknologi bisa diterapkan dengan baik, maka masalah banjir di Jabodetabek bisa dikurangi secara signifikan,” kata dia. [WLC02]
Sumber: BRIN
Discussion about this post