Selasa, 10 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

13 Satwa Liar Papua Dilepasliarkan, 2 Satwa di Sumut Diserahkan Sukarela

Belasan satwa liar yang menjadi barang bukti perdagangan satwa di Papua dilepasliarkan. Sementara dua satwa liar yang sempat dipelihara warga di Sumatera Utara diserahkan ke BBKSDA setempat. Satwa-satwa tersebut dilindungi undang-undang.

Selasa, 12 Juli 2022
A A
Salah satu satwa liar di Papua yang dilepasliarkan. Foto ppid.menlhk.go.id.

Salah satu satwa liar di Papua yang dilepasliarkan. Foto ppid.menlhk.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan 13 satwa endemik Papua, Senin, 11 Juli 2022. Pelepasan dilakukan di dua lokasi, yakni di hutan sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura dan hutan adat Isyo di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura. Pemilihan dua lokasi tersebut didasarkan pada habitat asli jenis-jenis satwa yang dilepasliarkan.

Satwa yang dilepasliarkan di hutan sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, yaitu 3 ekor kakaktua raja (Probosciger aterrimus), 2 ekor kasturi kepala hitam (Lorius lory), 2 ekor toowa cemerlang (Lophorina magnifica) jantan dan betina, serta 4 ekor cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) jantan dan bentina. Sedangkan 2 ekor cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus) dilepasliarkan di Rhepang Muaif.

Satwa-satwa tersebut merupakan barang bukti titip rawat dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Papua. Pihak Ditreskrimsus menitipkan satwa-satwa tersebut di kandang transit Buper Waena sejak 23 Mei 2022.

Baca Juga: Diserang Buaya 3 Meter, Sampan Nelayan Pelalawan Karam

“Jadi, semuanya sudah menjalani masa habituasi untuk memastikan sifat liar mereka supaya sanggup bertahan di alam,” kata Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan pada BBKSDA Papua, Lusiana Dyah Ratnawati.

Siamang yang diserahkan warga di sumatera Utara. Foto ppid.menlhk.go.id.
Siamang yang diserahkan warga di sumatera Utara. Foto ppid.menlhk.go.id.

Sebenarnya, total jumlah satwa barang bukti titip rawat 19 ekor. Namun lima ekor nuri sayap hitam (Eos cyanogenia) tidak dapat dilepasliarkan di Jayapura karena bukan habitat alaminya. Rencananya, burung nuri itu akan dilepasliarkan di Biak. Sementara satu ekor kakatua koki (Cacatua galerita) masih berstatus barang bukti proses hukum sehingga belum dapat dilepasliarkan. Kedua jenis satwa tersebut masih mendapatkan penjagaan dan pemantauan secara berkala di kandang transit Buper Waena.

“Semua satwa itu termasuk dilindungi undang-undang,” kata Plt. Kepala Bidang Teknis BBKSDA Papua, Yulius Palita.

Baca Juga: Banjir Wajo Setinggi 2 Meter, Warga Butuh Sembako dan Air Mineral

Jenis-jenis satwa itu terdaftar dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 ttg KSDAHE.

Dalam daftar CITES, satwa-satwa tersebut masuk dalam appendix II, kecuali kakatua raja Appendix I, dan toowa cemerlang tidak terdaftar dalam Appendix CITES.

Direktur Reskrimsus Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Sancez Napitulu menambahkan kegiatan tersebut bermula dari laporan masyarakat tentang maraknya perdagangan satwa yang akan dikirim ke luar wilayah Papua. Pihak Polda Papua telah melakukan proses penyidikan dan pemeriksaan ahli di BKSDA Jakarta dan dalam waktu dekat akan melakukan proses tahap pertama ke kejaksaan.

Baca Juga: Sudah 126 Gempa Susulan di Selatan Jawa Timur, BNPB Imbau Warga Waspada

Sementara, Plt. Kepala BBKSDA Papua, Abdul Azis Bakry menyimpulkan, bahwa berdasarkan pemilihan lokasi lepas liar satwa-satwa barang bukti titip rawat tersebut, proses pelepasliaran satwa memerlukan energi besar, sikap kehati- hatian tinggi, dan tidak asal melepasliarkan.

“Jadi saya mengimbau kepada semua pihak, stop tindak ilegal satwa liar endemik Papua. Konsekuensi yang ditimbulkan sangat besar dan perlu biaya yang tinggi,” ungkap Azis.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BBKSDA PapuaBBKSDA SumutPelepasliaran satwaSatwa liar

Editor

Next Post
Episenter gempa magnitudo 5,1 di wilayah Tanggamus, Provinsi Lampung pada Selasa, 12 Juli 2022. Foto tangkap layar bmkg.go.id

Gempa Hari Ini Magnitudo 5,1 Guncang Tanggamus Lampung

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media