Selasa, 15 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ada Gula Merah, Ada Gula Semut

Rasanya sama-sama manis. Tapi yang satu padat, satunya serbuk. Manfaatnya pun berbeda. Apa sajakah?

Senin, 7 November 2022
A A
Mahasiswa KKN UNY dan masyarakat Desa Gedong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo tengah menunjukkan produk gula semutnya. Foto uny.ac.id

Mahasiswa KKN UNY dan masyarakat Desa Gedong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo tengah menunjukkan produk gula semutnya. Foto uny.ac.id

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kita mengenal ada gula merah atau gula jawa. Ada juga gula semut. Kedua produk berasa manis itu dibuat dari olahan air nira atau aren. Lalu apa sih bedanya?

Adalah mahasiswa kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta mengajak masyarakat Desa Gedong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah untuk melakukan inovasi produk gula. Sehari-hari masyarakat di sana membuat gula merah. Mereka mencetak air sadapan nira atau getah tandan bunga pohon kelapa menjadi gula-gula padat. Gula merah tersebut biasa dijadikan pemanis pengganti gula pasir, juga bumbu masakan.

Beberapa persoalan muncul. Menurut Lurah Desa Gedong, Rustriningsih, permasalahan produsen atau pelaku usaha gula merah adalah tidak bisa mengatasi naik turunnya harganya sehingga berpengaruh kepada perekonomian.

Baca Juga: Beruntun, Setelah Sukabumi Gempa Guncang Gianyar dan Kepulauan Sitaro

Sementara menurut salah satu produsen gula merah, Sudrajat, banyak produsen gula merah belum bisa menginovasikan produk karena beberapa faktor. Seperti tidak ada sumber daya manusia yang bisa mengolah gula merah menjadi produk olahan lain. Juga kurang relasi dalam pemasaran karena sudah terbiasa gula merah dijual ke pengepul.

“Ada ketidakstabilan harga di pasaran dan kurangnya inovasi produk menjadi permasalahan bagi pelaku usaha gula jawa di Desa Gedong,” kata Sudrajat.

Baca Juga: Gempa Sukabumi Magnitudo 4,6 Dirasakan hingga III MMI

Solusi yang diusulkan mahasiswa KKN UNY adalah melakukan inovasi dengan mengolah gula jawa menjadi gula semut. Gula semut adalah gula merah versi bubuk yang sering pula disebut gula kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula mirip sarang semut di tanah.

“Inovasi ini upaya mempromosikan Desa Gedong menjadi produsen gula yang sehat. Harapannya, gula semut dapat masuk ke dalam Badan Usaha Milik Desa (Bumdes),” harap Ketua Kelompok KKN Diah Widiastutik dari Program Studi Pendidikan Kriya, 2 November 2022.

Baca Juga: Masyarakat Rentan Terdampak Perubahan Iklim Butuh Keadilan Iklim

Cara Membuat Gula Semut
Menurut Dimas Cahya Andriantopo dari Prodi Manajemen, pembuatan gula semut diawali dengan pengambilan air nira dari pohon kelapa secara berkala agar menghasilkan air nira kelapa murni yang segar.

Lalu siapkan alat seperti tungku, kayu bakar, dan wajan. Air nira direbus dalam wajan di atas tungku hingga air berubah warna dan mengental. Untuk proses ini diperlukan nyala api yang stabil untuk meminimalisir kegagalan dalam proses produksi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Desa Gedonggula jawagula kristalgula merahgula pasirgula semutinovasi produk gulaKabupaten PurworejoKecamatan Kemirimahasiswa KKN UNYUNY

Editor

Next Post
Ilustrasi koneksi handphone dengan jaringan 5G. Foto ashirova0/piabay.com

Serba Serbi KTT G20, Ikut Merasakan Berkah Akses Jaringan 5G

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media