Senin, 23 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, Orang Indonesia Telan 15 Gram Mikroplastik Per Bulan

Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain.

Jumat, 17 Oktober 2025
A A
Contoh kandungan cemaran mikroplastik dari air sungai. Foto dok.Ecoton

Contoh kandungan cemaran mikroplastik dari air sungai. Foto dok.Ecoton

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Ikhtiar Petani Gunungkidul Menjaga Pangan Lokal yang Terancam Ditinggalkan

Kebijakan lintas sektor dan ubah gaya hidup

Untuk mengatasi persoalan ini, BRIN mendorong langkah konkret lintas sektor. Pertama, memperkuat riset dan pemantauan kualitas udara dan air hujan secara rutin di kota-kota besar. Kedua, memperbaiki pengelolaan limbah plastik di hulu, termasuk pengurangan plastik sekali pakai dan peningkatan fasilitas daur ulang. Ketiga, mendorong industri tekstil agar menerapkan sistem filtrasi pada mesin cuci guna menahan pelepasan serat sintetis.

Selain itu, edukasi publik menjadi kunci penting. Reza mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan.

“Kesadaran masyarakat bisa menekan polusi mikroplastik secara signifikan,” kata dia.

Hujan yang kini mengandung partikel plastik adalah refleksi dari perilaku manusia terhadap bumi. Bahwa langit Jakarta sebenarnya sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya.

Baca juga: Yang Bertahan dan Hilang dari Kemandirian Pangan Lokal di Gunungkidul

“Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, sampah yang kita bakar karena malas memilah, semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya,” tegas Reza.

Annisa menambahkan, meskipun pemerintah telah menetapkan target ambisius melalui National Plastic Action Partnership (NPAP) untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada tahun 2025, target tersebut sulit tercapai. Terutama apabila perilaku masyarakat terhadap plastik sekali pakai belum berubah secara signifikan.

Di lain sisi, Annisa mengingatkan, kebiasaan menggunakan plastik untuk kantong belanja, kemasan makanan, dan pembungkus dalam transaksi daring masih menjadi sumber utama pencemaran mikroplastik.

“Perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang paling realistis untuk mengurangi dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan,” papar dia.

Baca juga: 192 Kali Gempa Landa Sumenep dan Pulau Sapudi Jawa Timur

Langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa memberi dampak besar. Masyarakat dapat mulai dengan membawa tumbler sendiri, menghindari air kemasan sekali pakai, dan menggunakan wadah yang dapat digunakan berulang kali.

Di lingkungan pendidikan seperti kampus, kebiasaan ini bisa diterapkan secara kolektif. UGM sendiri sudah memiliki Toyagama yang menyediakan akses air minum bersih di berbagai titik kampus.

Namun ia juga mengingatkan air minum galon sekali pakai maupun isi ulang dari depot (DAMIU) tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Beberapa penelitian menunjukkan ada kandungan mikroplastik jenis high density polyethylene (HDPE) dan polyethylene terephthalate (PET) pada wadah tersebut.

Baca juga: Menteri Hanif, Pemulihan Sungai Cipinang Harus Selesai Satu Bulan

“Perlu ada kebijakan lebih ketat terkait standar keamanan air minum dan pengawasan bahan kemasan yang digunakan masyarakat luas,” ucap dia.

Selain mengubah perilaku individu, Annisa menekankan pentingnya penguatan riset dan kebijakan publik untuk memahami serta menekan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Sayangnya, masih ada keterbatasan fasilitas laboratorium untuk pengujian dan analisis mikroplastik di banyak wilayah Indonesia. Keterbatasan ini menyebabkan data ilmiah tentang dampak mikroplastik di dalam tubuh manusia masih belum menyeluruh.

Namun ia optimistis terhadap perkembangan riset di bidang ini. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan ada mikroba yang mampu mendegradasi molekul mikroplastik. Annisa menegaskan, langkah paling efektif tetap dimulai dari akar masalah eliminasi mikroplastik sejak dari sumbernya.

“Jika tidak dikendalikan, akumulasi mikroplastik akan terus berlangsung dan masuk ke rantai makanan yang kita konsumsi, mulai dari ikan, ayam, hingga hasil pertanian,” kata dia. [WLC02]

Sumber: BRIN, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Air HujanBRINFK-KMK UGMmikroplastik

Editor

Next Post
Para pemohon dalam Sidang Putusan MK atas permohonan uji materiil UU Nomor 6 Tahun 2023, 16 Oktober 2025. Foto Dok. Istimewa.

MK Batalkan Sanksi Bagi Masyarakat yang Berkebun di Hutan Tanpa Tujuan Komersial

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media