Kamis, 12 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Eka Tarwaca, Konversi Lahan Karet Menjadi Kebun Sawit Keliru dan Berisiko

Monokultur sawit dalam skala luas berisiko menurunkan kualitas sumber daya lahan dan mengancam biodiversitas. Perlu pendekatan kebun campur sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap tantangan pertanian masa depan.

Jumat, 25 Juli 2025
A A
Dosen Fakultas Pertanian UGM, Eka Tarwaca Susila Putra. Foto Dok. Faperta UGM.
Share on FacebookShare on Twitter

Solusinya pun bukanlah konversi, melainkan intensifikasi lahan melalui pola tanam kebun campuran. Pola tersebut memungkinkan petani mendapatkan pendapatan dari lebih dari satu komoditas sekaligus mengurangi risiko saat harga salah satu komoditas jatuh. Dalam situasi ekonomi pedesaan yang sudah kompleks, pemaksaan kebijakan konversi justru berisiko menambah beban petani kecil.

“Pendekatan yang lebih partisipatif dan berbasis kondisi lapangan sangat dibutuhkan agar kebijakan tidak berakhir kontraproduktif,” pesan Eka.

Baca juga: Juli Puncak Kemarau di Riau, Potensi Karhutla Meningkat hingga Awal Agustus

Berbahaya bagi lingkungan

Dari perspektif lingkungan, konversi besar-besaran juga dinilai berbahaya. Monokultur sawit dalam skala luas berisiko menurunkan kualitas sumber daya lahan dan mengancam biodiversitas. Ia mendorong pendekatan kebun campur sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap tantangan pertanian masa depan.

Selain itu, diversifikasi juga membuka peluang bagi sistem pertanian yang lebih resilien terhadap dampak perubahan iklim. Hal ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi secara seimbang.

“Diversifikasi komoditas dan pengelolaan terintegrasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan,” ucap dia.

Baca juga: Lahan Konservasi Gajah dari Prabowo, Pakar Ingatkan Kepastian Status Lahan dan Kesesuaian Habitat

Lebih jauh, Eka menyoroti lemahnya proses penyusunan kebijakan ini. Ia menilai kebijakan konversi lahan belum mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, terutama dari sisi jangka panjang. Risiko-risiko yang tidak diperhitungkan dengan matang justru bisa menjadi bumerang di masa depan.

Penyusunan kebijakan yang strategis semestinya melibatkan partisipasi multisektor dan analisis berbasis data yang komprehensif.

“Kebijakan ini tampaknya hanya lahir dari pertimbangan sesaat, tanpa melihat dampak luas dan berkelanjutan terhadap petani, lingkungan, dan ekonomi nasional,” duga Eka.

Baca juga: Lebih Dua Dekade, Baleg dan Komisi XIII DPR Janji Sahkan RUU Masyarakat Adat

Empat langkah bijak

Sebagai solusi, Eka menawarkan empat langkah bijak yang dapat ditempuh pemerintah. Pertama, mempertahankan kebun karet eksisting dengan program revitalisasi berbasis pola tanam campuran. Kedua, memperkuat industri primer berbasis karet untuk menstabilkan harga di saat harga global jatuh.

Ketiga, meningkatkan produktivitas kebun sawit eksisting melalui intensifikasi on-farm. Dan keempat, mengarahkan kelebihan produksi CPO dari hasil intensifikasi untuk mendukung program biosolar seperti B35 hingga B100. Strategi ini dinilai lebih rasional dan berimbang karena tidak mengandalkan ekspansi, melainkan efisiensi dan inovasi.

“Dengan skema seperti itu, kita tidak perlu mengorbankan komoditas lain demi sawit, tetapi tetap bisa mewujudkan ketahanan energi,” tegas dia. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: CPOEka Tarwaca Susila PutraFakultas Pertanian UGMkebun campurankelapa sawitpohon karet

Editor

Next Post
Prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Foto gocsrkaltim.com.

Prasasti Yupa Kerajaan Kutai Lebih Tua, Tapi Belum Masuk Memory of the World UNESCO

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Banjir di salah satu wilayah di Pulau Jawa. Foto Dok. Walhi.Kebijakan Tata Ruang Abaikan Lingkungan, Bencana Ekologis di Pulau Jawa Terus Berlanjut
    In Lingkungan
    Senin, 9 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media