“Aktifnya fenomena La Nina lemah pada musim hujan awal tahun perlu mendapatkan perhatian untuk antisipasi potensi dampak fenomena hidrometeorologi ekstrem seperti banjir dan longsor. Di sisi lain, pada periode kemarau, dapat terjadi peningkatan risiko karhutla, sehingga memerlukan upaya mitigasi sistematis lebih dini,” papar dia.
Baca juga: Puan Maharani Ajak Perempuan Pastikan Bumi Jadi Rumah Aman Bagi Generasi Masa Depan
Berdasarkan prediksi kondisi iklim ini, Ardhasena juga merekomendasikan agar informasi iklim BMKG dapat dioptimalkan untuk mendukung penguatan berbagai sektor lainnya yang terdampak iklim, khususnya sumber daya air, pertanian, perkebunan, kesehatan dan energi.
Sektor pertanian dan perkebunan harus menangkap momentum ini untuk mendongkrak produksi melalui strategi adaptasi yang tepat. Para pelaku usaha perlu menggunakan varietas tanaman berproduktivitas tinggi serta mewaspadai potensi hujan di musim kemarau yang dapat mengganggu komoditas sensitif seperti tebu.
Di sisi lain, stakeholder perlu memastikan kesiapan infrastruktur dengan memperbaiki saluran irigasi primer dan sekunder di wilayah yang berpotensi hujan tinggi. Sementara untuk daerah dengan curah hujan rendah, diperlukan langkah antisipasi melalui pengaturan pola tanam dan pengelolaan ketersediaan air guna menjaga optimalisasi produktivitas lahan.
Masyarakat perlu mewaspadai ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) karena tingginya curah hujan dan kelembapan udara sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu, kombinasi suhu yang lebih hangat dan kelembaban tinggi berpotensi mengurangi kenyamanan termal tubuh sehingga masyarakat harus menjaga kondisi kesehatan fisik secara ekstra.
Baca juga: Kemenhut Izinkan Kayu Hanyut Dimanfaatkan Terbatas untuk Pemulihan Bencana Sumatra
Di sisi lain, pengelola sumber daya air dapat menyusun Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) menggunakan skenario normal untuk menjamin stabilitas pasokan irigasi dan energi listrik sepanjang tahun. Pemerintah dan pemangku kepentingan juga perlu mengantisipasi ketersediaan air selama musim kemarau guna memastikan kebutuhan pengairan pertanian dan produksi listrik tetap terpenuhi.
Peluncuran pandangan iklim
Pada kesempatan itu, BMKG meluncurkan Informasi Pandangan Iklim (Climate Outlook) 2026. Faisal menjelaskan, pandangan iklim merupakan komitmen BMKG dalam memberikan gambaran komprehensif dinamika atmosfer-laut global. BMKG mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan informasi ini sebagai referensi utama dalam perencanaan kebijakan dan optimalisasi potensi iklim di berbagai sektor pembangunan.
“Informasi Pandangan Iklim 2026 ini diharapkan menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan, langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektor yang terdampak iklim,” kata Faisal.
Serangkaian informasi iklim untuk kemanfaatan berbagai sektor pembangunan, seperti Prediksi Hujan Bulanan, Buletin Iklim, Prediksi Musim Hujan dan Kemarau, serta berbagai produk iklim sektoral lainnya disampaikan BMKG. Masyarakat dan pihak terkait dapat merujuk pada prediksi hujan dasarian yang diperbarui setiap 10 hari serta prediksi hujan bulanan yang diperbarui setiap bulan melalui berbagai saluran informasi resmi BMKG (Website, Instagram, X, TikTok, Facebook). [WLC02]
Sumber: BMKG






Discussion about this post