Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kerumitan Kelola Hutan untuk Pembangunan dan Penurunan Emisi

Tak semua negara punya hutan. Saat punya, hutan dieksploitasi untuk banyak kepentingan. Di sisi lain, hutan harus diberdayakan untuk atasi perubahan iklim.

Rabu, 11 Oktober 2023
A A
Hutan hujan tropis Sumatera di kawasan ekowisata Tangkahan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan bagian Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Foto Dok Wanaloka.com.

Hutan hujan tropis Sumatera di kawasan ekowisata Tangkahan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan bagian Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Foto Dok Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Pengalaman Indonesia dalam mengendalikan perubahan iklim melalui inovasi dan kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan juga dibagikan Siti kepada para Delegasi Archipelagic and Island States (AIS) Forum atau Forum Negara-Negara Pulau dan Kepulauan.

“Pemerintah Indonesia telah mendapat pengakuan dunia karena berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca dari Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) pada periode 2014-2016 sebesar 20,25 juta ton CO2eq. Bahkan menerima Result Based Payment sebesar USD 103,8 juta,” tutur Siti dalam acara “Forest Powers for Climate Action Workshop bertema “Forest Management Innovation and Policy in Mitigating Climate Change in Indonesia” di Nusa Dua, Bali pada 10 Oktober 2023.

Pencapaian tersebut, menurut Siti menunjukkan respon Indonesia yang ambisius terhadap ancaman perubahan iklim. Sekaligus menjadi bentuk peningkatan kepercayaan di dalam negeri dan dari dunia internasional.

Baca Juga: Dua Orangutan di Jalan Raya Bengalon – Muara Wahau Kutai Timur Diselamatkan

Ia mengajak negara-negara anggota AIS Forum untuk menguatkan ambisinya dan terus menciptakan kolaborasi dan inisiatif baru dalam rangka mengatasi perubahan iklim. Lantaran langkah itu sejalan dengan upaya mendorong pembangunan ekonomi yang rendah karbon, terutama lewat sektor kehutanan.

“Perubahan iklim bukan hanya tantangan global yang tidak mengenal batas-batas negara. Namun juga merupakan isu yang membutuhkan solusi yang perlu dikoordinasikan di tingkat internasional untuk membantu negara-negara berkembang menuju ekonomi rendah karbon,” jelas Siti.

Indonesia melalui sektor kehutanan telah menetapkan target net sink karbon pada tahun 2030 melalui program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang dibangun atas koreksi terhadap kebijakan dan langkah di sektor kehutanan selama tidak kurang dari tujuh tahun.

Baca Juga: Program Safety 1000 Training Extravaganza untuk Pelaku Wisata Selam

Langkah-langkah korektif untuk memperbaiki pengelolaan hutan dikembangkan dan diimplementasikan melalui penguatan kebijakan, program yang lebih terorganisir, dan proses kerja yang lebih baik. Termasuk sistem pemantauan dan verifikasi terhadap keluaran, hasil, dan dampak dari langkah-langkah koreksi tersebut.

Upaya signifikan untuk mengurangi emisi dari sektor FOLU di Indonesia akan berkontribusi 60 persen dari target penurunan emisi nasional yang tercantum dalam ENDC Indonesia. Terkait persoalan tersebut, melalui program Kampus Merdeka, kampus mengupayakan mahasiswa untuk dapat mengakses informasi terbarukan dari dunia kehutanan.

Salah satunya mengembangkan mata kuliah FOCU (Forestry Update Course), yaitu kegiatan perkuliahan tentang isu, kebijakan, dan praktik-praktik terkini untuk mahasiswa seluruh Indonesia. Mata kuliah tersebut terbuka untuk mahasiswa kehutanan serta melibatkan narasumber dan ahli dari berbagai sektor. [WLC02]

Sumber: UGM, PPID KLHK

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: AIS ForumEmisi gas rumah kacaFOLU Net Sink 2030Forestry Update CourseMenteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakarperubahan iklim

Editor

Next Post
Warga Rempang berkumpul, berpantun, berorasi dan bersalawat untuk menolak relokasi. Foto Istimewa.

Warga Melayu Rempang Bersalawat dan Berpantun Tolak Relokasi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media