Rabu, 25 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bambang Suhartanto: Beternak Sapi di Bawah Tegakan Perkebunan Sawit

Lahan bagi peternak sapi untuk menggembalakan hewan ternaknya kian sempit. Tergerus lahan sawit yang terus bertambah. Menggembalakan sapi di bawah tegakan perkebunan sawit menjadi salah satu solusinya.

Senin, 25 September 2023
A A
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof. Bambang Suhartanto. Foto ugm.ac.id.

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof. Bambang Suhartanto. Foto ugm.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Luas perkebunan sawit di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Lalu meningkat menjadi 14,66 juta ha pada tahun 2021 dan meningkat lagi menjadi 14,99 juta hektare pada 2022 dengan produksi total 45,58 juta ton atau rata-rata 3,04 ton per hektare.

Luasan lahan vegetasi di bawah tegakan perkebunan kelapa sawit, menurut Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Bambang Suhartanto berpotensi menyediakan pakan ternak ruminansia dengan cara digembalakan dengan ketersediaan rumput, forb dan legum, pakis serta tanaman lain.

“Integrasi sapi dalam perkebunan sawit merupakan bentuk pertanian terpadu dimana ternak sapi memanfaatkan hijauan antar pohon dan hasil samping industri perkebunan kelapa sawit,” kata Bambang dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Nutrisi dan Makanan Ternak yang berjudul “Sistem Integrasi Tanaman Pakan dan Kelapa Sawit untuk Mendukung Produksi Ternak Ruminansia di Indonesia” di ruang Balai Senat Gedung Pusat UGM pada 19 September 2023.

Baca Juga: Jelajah 10 Hari di Kalteng Temukan Potensi 16 Spesies Baru

Bambang menyebutkan sistem integrasi sapi dan kelapa sawit merupakan bentuk sistem pertanian terpadu yang ideal apabila disediakan lahan untuk tanaman pakan ternak ketika umur tanaman sawit sudah melebihi lima tahun. Melalui penggembalaan ternak sapi dengan metode rotasional grazing di bawah tegakan tanaman perkebunan sawit bisa menekan biaya pakan dan pemeliharaan.

“Sekitar 4 juta sapi dapat dipelihara dengan biaya murah,” imbuh Bambang.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: beternak sapiFakultas Peternakan UGMpengendalian gulmaperkebunan sawitProf. Bambang Suhartantotegakan pohon sawit

Editor

Next Post
Peta Pulau Rempang. Foto ugm.ac.id.

Diskusi UGM, Ini Alasan Pemerintah Ngotot Bangun PSN Rempang

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media