Jumat, 27 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Banjir Musim Kemarau, Greenpeace Serukan Penghentian Ekspansi Energi Fosil

Pemerintah Indonesia harus keluar dari zona nyaman dan berhenti melanjutkan ketergantungan pada energi fosil.

Jumat, 11 Juli 2025
A A
Banjir di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, 7 Juli 2025. Foto BPBD Morowali.

Banjir di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, 7 Juli 2025. Foto BPBD Morowali.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Juli seharusnya puncak musim kemarau. Namun curah hujan tinggi masih terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Alih-alih memasuki musim kering, sejumlah daerah justru dilanda banjir tidak terkecuali Jabodetabek dan Mataram di NTB. Pertanda ancaman krisis iklim bukan lagi menjadi isapan jempol.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dinamika atmosfer yang tak biasa, seperti lemahnya monsun Australia, suhu muka laut yang tetap hangat, serta aktifnya gangguan atmosfer tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby, telah memicu pola cuaca yang tidak stabil. Menyebabkan hujan deras di periode yang semestinya kering.

Greenpeace Indonesia menegaskan kondisi ini bukan sekadar anomali musiman. Melainkan merupakan konsekuensi langsung dari krisis iklim yang selama ini diabaikan pengambil kebijakan.

Baca juga: Kusta Bukan Penyakit Kutukan, Kusta Bisa Disembuhkan

Pendidihan global yang didorong emisi gas rumah kaca – yang sebagian besar bersumber dari energi fosil, deforestasi, dan industri ekstraktif – telah menyebabkan gangguan sistemik pada iklim dan memperburuk risiko bencana alam di seluruh wilayah Indonesia.

Saat masyarakat dihadapkan pada hujan ekstrem saat musim kemarau, alarm krisis iklim seharusnya sudah terdengar sangat jelas.

“Kita tidak bisa lagi menormalkan cuaca ekstrem dan musim yang kacau sebagai hal biasa. Fenomena hujan deras periode Juli adalah peringatan serius bahwa krisis iklim sudah mengubah wajah musim di Indonesia. Pemerintah harus bertindak cepat dan tegas untuk mengurangi emisi dan melindungi rakyat dari dampak krisis iklim yang makin parah,” tegas Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu.

Baca juga: Konferensi Internasional Jadi Upaya Geopark Kaldera Toba Raih Kembali Green Card UNESCO

Hentikan ekspansi energi fosil

Greenpeace menyerukan Pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim yang konkret dan berkeadilan. Krisis iklim harus diintegrasikan dalam seluruh proses perencanaan pembangunan, termasuk dalam sektor energi, tata ruang, dan pengelolaan sumber daya alam.

Pemerintah juga perlu menghentikan ekspansi energi fosil dan segera beralih ke energi bersih terbarukan yang aman dan berkelanjutan. Mengingat hingga 2024, Indonesia mencatat rekor produksi batu bara tertinggi dalam sejarah, yakni 836 juta ton. Jumlah itu melampaui target awal 710 juta ton dan peningkatan 7 persen dari tahun sebelumnya (775 juta ton).

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Energi fosilGreenpeace IndonesiaKrisis Iklimmusim kemarauRUU EBET

Editor

Next Post
Desain kapal pengangkut sampah di sungai perkotaan. Foto Dok. BRIN.

Desain Kapal Pembersih Sampah di Sungai Perkotaan

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media