Wanaloka.com – Berdasarkan hasil Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 10 Desember 1982, Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi perairan dengan luas lautan mencapai 3.257.357 kilometer persegi. Banyak potensi energi dari laut yang masih tersimpan dan bisa digali agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. Salah satunya potensi sumber energi listrik dari laut.
“Indonesia memiliki potensi energi laut seperti energi arus, gelombang dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion),” jelas Kepala Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL), Hadi Wijaya dalam acara bertajuk “Refleksi Akhir Tahun: Pemanfaatan Sumber Daya untuk Transisi Energi Indonesia” yang digelar di Bandung Jawa Barat pada 16 Februari 2023.
BBSPGL adalah satu unit di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Ketugasannya dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 252.K/GL.01/MEM.S/2022 tentang Uraian Fungsi BBSPGL. Fungsi BBSPGL antara lain melakukan survei potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) Kelautan untuk mendukung Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Juga melaksanakan survei mitigasi kebencanaan geologi kelautan.
Baca Juga: Perpres 78 Percepat Perampasan Tanah Rakyat untuk PSN, Walhi: Cabut!
Terkait fungsi survei potensi EBT, BBSPGL telah melakukan serangkaian kegiatan untuk mengukur potensi energi laut Indonesia yang bisa dimanfaatkan menjadi energi listrik di 17 titik. Total potensi mencapai 60 Gigawatt (GW). Hasil pemetaan sudah diluncurkan Badan Geologi pada 2022 lalu ke dalam Peta Potensi Energi Laut Indonesia.
Sebanyak 17 titik perairan itu berada di Selat Riau, Selat Sunda, Selat Toyapakeh Nusa Penida, Selat Lombok, Selat Alas, Selat Molo, Selat Larantuka, Selat Boleng, Selat Pantar, Selat Mansuar, Selat Lirung Talaud, Selat Sugi Riau, Selat Lampa Natuna, Selat Lembeh, Selat Sinaboi Tenggara Medan, Selat Patinti Halmahera Selatan, dan Selat Alor.
Hadi melanjutkan, tim BBSPGL telah melewati fase pertama untuk mencari data dukung pemetaan dengan melakukan Pre-FS (Feasibility Study). Salah satunya adalah site selection.
Baca Juga: FGD Peta Jalan Teknologi dan Inovasi dalam Industrialisasi Kebencanaan
“Jadi Pre-FS site selection itu bisa menentukan di mana lokasi terbaik, sehingga didapatkan energi arus, gelombang ataupun energi OTEC,” papar Hari.
Dari hasil pemetaan itu dapat disimpulkan, bahwa seluruh lautan Indonesia mengandung potensi energi laut.
“Indonesia bagian barat, tengah, timur, bahkan selatan dan utara, semuanya mengandung potensi energi laut, baik energi arus laut, gelombang, ataupun OTEC,” kata Hari.
Discussion about this post