Wanaloka.com – Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) telah ditetapkan menjadi Situs Warisan Alam Dunia “Tropical Rainforest Heritage of Sumatra” oleh UNESCO sejak 2004. Namun saat ini TNGL tengah mengalami ancaman kerusakan hutan dan kepunahan spesies. Guna mencegah ancaman kerusakan terus berlanjut, diperlukan dukungan riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai upaya konservasi flora yang terancam punah di TNGL.
Berdasarkan data globalforestwatch.org tahun 2024, sejak 2001 hingga 2023 TNGL telah kehilangan 26.000 ha tutupan pohon atau hutannya.
“Padahal TNGL merupakan rumah dari hampir sepertiga keanekaragaman flora Sumatra,” kata Peneliti Ahli Utama, Iyan Robiansyah sekaligus Ketua Kelompok Riset Konservasi Tumbuhan Terancam Kepunahan, Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat acara Jamming Session #10 bertajuk “Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Gunung Leuser” pada 4 Juli 2024.
Baca Juga: Booster Cair dari Endapan Silika Panas Bumi untuk Kesuburan Tanaman
Iyan yang juga sebagai Red List Authority Coordinator, Indonesian Plant Red List Authority menyebutkan jumlah tumbuhan dilindungi, jenis endemik, dan tumbuhan terancam kepunahan di TNGL.
Berdasarkan kajian beberapa publikasi ilmiah, dari 2.273 spesies tumbuhan berpembuluh yang ditemukan di TNGL, 7 spesies di antaranya merupakan jenis dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 106 Tahun 2018. Sedangkan berdasarkan Daftar Merah IUCN, ia menemukan 78 jenis tumbuhan terancam kepunahan dan 109 jenis endemik yang hanya ditemukan di TNGL.
Dia pun merinci jenis flora dilindungi yang ditemukan di TNGL adalah 2 jenis anggrek Cymbidium hartinahianum dan Paphiopedilum primulinum; 2 jenis Rafflesia yaitu Rafflesia lawangensis dan Rafflesia micropylora; 2 jenis kantong semar yaitu Nepenthes tobaica dan Nepenthes; dan jenis palem Johannesteijsmannia altifrons.
Baca Juga: KLHK Ajak Kadinas LH Pilah Sampah dari Rumah karena TPA adalah Tempat Residu
Berdasarkan kategori Daftar Merah IUCN, dia menyebutkan beberapa spesies tumbuhan di TNGL yang berstatus konservasi ‘kritis’ (Critically Endangered/CR), yaitu Lithocarpus orbicularis. Kemudian berstatus ‘genting’ (Endangered/EN) meliputi Vitex vansteenisii, Elaeocarpus brigittae, Canarium karoense, Lithocarpus atjehensis, dan Quercus steenisii.
Peneliti Ahli Muda PREE, Enggal Primananda menjelaskan upaya konservasi pemulihan spesies tumbuhan terancam kepunahan di TNGL. Berdasarkan hasil penelitiannya bersama tim, dia berupaya mengkonservasi Quercus steenisii, jenis endemik TNGL yang dikenal dengan nama gensing tanduk atau gajo.
Discussion about this post