Minggu, 22 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Dorong Percepatan Transisi Energi

Kamis, 12 Maret 2026
A A
Ilustrasi aktivitas ekstraktif minyak bumi di laut. Foto Kementerian ESDM.

Ilustrasi aktivitas ekstraktif minyak bumi di laut. Foto Kementerian ESDM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Konflik geopolitik di Timur Tengah yang diprediksi mengganggu jalur pasokan minyak dunia mulai menunjukkan dampaknya bagi ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan cadangan pasokan operasional bahan bakar minyak (BBM) saat ini hanya bertahan sekitar 20-23 hari, jauh di bawah standar internasional yang mencapai 90 hari.

Kekhawatiran masyarakat mulai muncul di berbagai daerah menjelang momentum mudik Idul Fitri. Bahkan masyarakat di beberapa daerah di Sumatra Utara dan Jawa Tengah mengalami panic buying dengan mengisi stok BBM di beberapa titik SPBU.

Dewan Pengarah Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Prof. Deendarlianto, menilai kondisi menipisnya cadangan pasokan operasional BBM ini merupakan alarm bagi pemerintah untuk segera berbenah. Kondisi tersebut tidak lepas dari tingginya ketergantungan pada impor minyak. Produksi minyak mentah dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang kian meningkat.

“Produksi minyak mentah tidak sampai 700 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional sekitar 1,5 juta barel per hari. Artinya, masih harus mengimpor minyak mentah dalam jumlah banyak untuk menutup kebutuhan tersebut,” terang Deen, Kamis, 12 Maret 2026.

Baca juga: Indonesia Peringkat Kedua, IDAI Beberkan Langkah Strategis Pencegahan Campak

Ketergantungan impor minyak mentah menjadikan Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik global. Adanya gangguan jalur distribusi energi internasional akibat gejolak perang Iran dapat berdampak pada keterlambatan pasokan serta peningkatan harga minyak dunia.

“Saat terjadi konflik atau gangguan jalur distribusi, pasokan bisa terganggu dan harga minyak internasional juga ikut naik,” ucap Dosen Teknik Mesin UGM ini.

Kondisi ini juga dapat dijadikan peluang bagi pemerintah untuk mulai mengembangkan sumber energi terbarukan di Indonesia. Selama ini, pengembangan energi terbarukan terhambat karena harganya masih jauh dari harga minyak fosil.

Ia mendorong pemerintah mempercepat implementasi kebijakan energi baru, seperti B40 yang 40 persen bahannya berasal dari minyak sawit serta E10 bioetanol dari singkong atau tebu. Implementasi tersebut diklaim dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar di Indonesia secara bertahap.

“Ketika harga minyak dunia naik, energi terbarukan lebih kompetitif. Ada pengembangan biodiesel, bioetanol, maupun sumber energi alternatif lainnya,” papar dia.

Baca juga: TPA Bantargebang Longsor Lagi, Pemerintah Harus Reformasi Tata Kelola Sampah

Selain itu, momentum kenaikan harga minyak dunia menjadi langkah baru dalam penguatan riset dan pengembangan energi. Langkah baru dapat mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri melalui riset terapan harus segera dikembangkan guna membangun kemandirian energi bagi Indonesia.

“Saatnya sekarang hilirisasi dari riset dasar menuju riset terapan, terutama di energi terbarukan,” kata dia.

Namun keberanian politik dalam menentukan arah kebijakan energi akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu keluar dari jebakan krisis energi yang selalu berulang. Sementara Indonesia dinilai punya posisi tawar untuk memperkuat kedaulatannya di sektor energi.

“Saya kira ini jadi momentum bagi dunia riset dan perguruan tinggi untuk mempercepat penelitian terapan di bidang energi terbarukan agar bisa segera diimplementasikan secara industri,” imbuh dia.

Baca juga: Kemarau Panjang, Pendampingan Penyuluh Pertanian untuk Mitigasi Risiko

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: EBTJurusan Teknik Mesin UGMKementerian ESDMKetahanan Energi NasionalSatgas Percepatan Transisi Energi

Editor

Next Post
Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.

Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan

Discussion about this post

TERKINI

  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
  • Ilustrasi aktivitas ekstraktif minyak bumi di laut. Foto Kementerian ESDM.Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Dorong Percepatan Transisi Energi
    In News
    Kamis, 12 Maret 2026
  • Ilustrasi anak dengan penyakit campak. Foto biofarma.co.id.Indonesia Peringkat Kedua, IDAI Beberkan Langkah Strategis Pencegahan Campak
    In Rehat
    Rabu, 11 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media