Kedua, ikan red devil bersifat omnivora (pemakan segala) dan cenderung karnivora, sehingga dapat memanfaatkan semua relung makanan yang tersedia. Bahkan spesies ini ditemukan mengonsumsi anak-anak spesies ikan lainnya.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang 176 Rumah Warga di Bone Bolango
Ketiga, ikan red devil bersifat agresif, membangun teritori, menjaga sarangnya dan memijah sepanjang tahun. Alhasil membuat rekrutmen ikan ini sangat cepat.
Keempat, masyarakat di sekitar Danau Toba tidak terlalu menggemari ikan ini karena durinya tajam dan dagingnya tipis. Ikan itu lebih banyak ditangkap untuk dijadikan pakan ternak. Akibatnya, tingkat pertumbuhan populasi ikan red devil terus menanjak naik karena kurang penangkapan (fishing effort).
Kelima, sampai saat ini, pemanfaatan ikan red devil menjadi bahan makanan berupa produk olahan seperti bakso ikan dan kerupuk ikan masih sangat terbatas.
Baca Juga: BMKG Sebut Gempa Pangandaran Dipicu Deformasi Batuan Dalam
“Penelitian ini masih studi pendahuluan. Kami sudah merancang kajian berikutnya yang bukan saja fokus kepada aspek bio-ekologi ikan red devil,” terang Charles.
Melainkan juga melakukan kajian pengendalian populasi ikan red devil, interaksi antar populasi ikan penghuni Danau Toba saat ini, dan pemanfaatan ikan red devil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan di sekitar Danau Toba.
Dosen FPIK melihat, bahwa ikan red devil dapat dimanfaatkan menjadi bahan makanan sumber protein hewani untuk mengurangi angka stunting anak-anak di sekitar Danau Toba. [WLC02]
Discussion about this post