Kamis, 12 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kekeruhan Atmosfer Akibat Erupsi Gunung Merapi 2010 Turun 36 Persen

Jumat, 16 Agustus 2024
A A
Gunung Merapi pada 17 Agustus 2024. Foto Magma Indonesia.

Gunung Merapi pada 17 Agustus 2024. Foto Magma Indonesia.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lilik Slamet Supriatin menjelaskan kekeruhan atmosfer (turbiditas) dapat disebabkan faktor alami dan aktivitas antropogenik, seperti kebakaran hutan, polusi udara, serta badai debu dan pasir. Tak terkecuali turbiditas akibat erupsi Gunung Merapi, karena memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.

“Turbiditas berdampak pada berkurangnya visibilitas, gangguan kesehatan, gangguan pemandangan kota, serta koefisien pemadaman,” kata Lilik dalam kolokium bertopik “Pengaruh Kekeruhan (Turbiditas) Atmosfer pada Gross Primary Productivity (GPP) di Taman Nasional Gunung Merapi” Sleman pada 15 Agustus 2024.

Berdasarkan riset BRIN, turbiditas atmosfer di wilayah Gunung Merapi berasal dari awan panas (wedus gembel) dan debu vulkanik yang dihasilkan saat erupsi. Koefisien pemadaman menunjukkan berkurangnya cahaya matahari yang diterima di suatu permukaan. Pada hari yang bersih, koefisien ini berada di angka 30 persen, sementara pada hari yang terpolusi mencapai 65 persen.

Baca Juga: SiTampan, Metode Tanam Mangrove untuk Lahan Ekstrem

Perubahan 10 hingga 20 persen pada koefisien pemadaman dapat mengakibatkan penurunan visibilitas hingga 50 persen.

Latar belakang penelitian yang dilakukan oleh Lilik dan tim Kelompok Riset Lingkungan Atmosfer dan Aplikasinya adalah untuk mengukur turbiditas menggunakan teknik penginderaan jauh, yaitu mengambil data GPP atau produktivitas primer kotor dari satelit.

Mereka mengukur indeks turbiditas dari rasio antara radiasi global yang diukur di permukaan dengan radiasi global di puncak atmosfer. Namun, karena kesulitan mendapatkan instrumen pengukuran radiasi di permukaan, mereka menghitung indeks turbiditas menggunakan teknik penginderaan jauh, yaitu mengambil data produktivitas primer kotor dari satelit.

Baca Juga: Target Nol Emisi Karbon di IKN Sulit Tercapai, Ini Alasan Pengamat

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: erupsi MerapiGunung Merapikekeruhan atmosferproduktivitas primer kotorTaman Nasonal Gunung Merapiturbiditas atmosfer

Editor

Next Post
Ilustrasi cuaca berawan. Foto lin2015/pixabay.com.

Pelajari Ilmu Aerosol untuk Rancang Strategi Hadapi Krisis Iklim

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Banjir di salah satu wilayah di Pulau Jawa. Foto Dok. Walhi.Kebijakan Tata Ruang Abaikan Lingkungan, Bencana Ekologis di Pulau Jawa Terus Berlanjut
    In Lingkungan
    Senin, 9 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media