Wanaloka.com – Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lilik Slamet Supriatin menjelaskan kekeruhan atmosfer (turbiditas) dapat disebabkan faktor alami dan aktivitas antropogenik, seperti kebakaran hutan, polusi udara, serta badai debu dan pasir. Tak terkecuali turbiditas akibat erupsi Gunung Merapi, karena memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.
“Turbiditas berdampak pada berkurangnya visibilitas, gangguan kesehatan, gangguan pemandangan kota, serta koefisien pemadaman,” kata Lilik dalam kolokium bertopik “Pengaruh Kekeruhan (Turbiditas) Atmosfer pada Gross Primary Productivity (GPP) di Taman Nasional Gunung Merapi” Sleman pada 15 Agustus 2024.
Berdasarkan riset BRIN, turbiditas atmosfer di wilayah Gunung Merapi berasal dari awan panas (wedus gembel) dan debu vulkanik yang dihasilkan saat erupsi. Koefisien pemadaman menunjukkan berkurangnya cahaya matahari yang diterima di suatu permukaan. Pada hari yang bersih, koefisien ini berada di angka 30 persen, sementara pada hari yang terpolusi mencapai 65 persen.
Baca Juga: SiTampan, Metode Tanam Mangrove untuk Lahan Ekstrem
Perubahan 10 hingga 20 persen pada koefisien pemadaman dapat mengakibatkan penurunan visibilitas hingga 50 persen.
Latar belakang penelitian yang dilakukan oleh Lilik dan tim Kelompok Riset Lingkungan Atmosfer dan Aplikasinya adalah untuk mengukur turbiditas menggunakan teknik penginderaan jauh, yaitu mengambil data GPP atau produktivitas primer kotor dari satelit.
Mereka mengukur indeks turbiditas dari rasio antara radiasi global yang diukur di permukaan dengan radiasi global di puncak atmosfer. Namun, karena kesulitan mendapatkan instrumen pengukuran radiasi di permukaan, mereka menghitung indeks turbiditas menggunakan teknik penginderaan jauh, yaitu mengambil data produktivitas primer kotor dari satelit.
Baca Juga: Target Nol Emisi Karbon di IKN Sulit Tercapai, Ini Alasan Pengamat
Discussion about this post