Selasa, 6 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Target Nol Emisi Karbon di IKN Sulit Tercapai, Ini Alasan Pengamat

Kamis, 15 Agustus 2024
A A
Panel-panel surya untuk PLTS. Foto Dok. ESDM.

Panel-panel surya untuk PLTS. Foto Dok. ESDM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sejak awal, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) didesain untuk ramah lingkungan dengan meminimalkan produksi carbon. Namun target net zero emission (NZE) atau nol emisi karbon, menurut Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi akan sulit tercapai.

Sebab syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai NZE adalah 100 persen pembangkit listrik menggunakan energi baru terbarukan (EBT), nol persen karbon dari kendaraan bermotor dengan BBM fosil, dan nol persen pencemaran lingkungan dari asap pabrik.

“Untuk mencapai 100 persen pembangkit EBT, PLN harus membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang tersebar dengan kapasitas sebesar 50 Mega Watt. Ditambah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA),” kata Fahmy, Kamis, 15 Agustus 2024.

Baca Juga: Pantai Selatan DIY Rawan Abrasi dan Sedimentasi

Sedangkan untuk mendukung pengembangan operasional kendaraan listrik, setidaknya PLN harus membangun ekosistem smart electric vehicle dalam rangka mewujudkan sarana transportasi ramah lingkungan yang menjangkau seluruh wilayah IKN.

“PLN juga membangun PLN Hub yang akan menjadi episentrum ekosistem transisi energi dan digitalisasi pertama sekaligus terbesar di Indonesia,” imbuh dia.

Fahmy berpandangan, jika IKN dikembangkan sesuai dengan design awal sebagai pusat pemerintahan, bukan sebagai kawasan industri, maka IKN sebagai Smart City dan Green City akan dapat diwujudkan. Sebaliknya, jika design bergeser selain pusat pemerintahan, melainkan juga sebagai kawasan industri dengan mengundang banyak investor asing, maka konsep Smart City dan Green City mustahil diwujudkan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: energi baru terbarukanIKNnol emisi karbonsmart city dan green city

Editor

Next Post
Penanaman mangrove dengan metode SiTampan di Sumenep. Foto Dok. IPB University.

SiTampan, Metode Tanam Mangrove untuk Lahan Ekstrem

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media