Kamis, 2 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Krisis Air Ancaman Nyata dari Dampak Emisi GRK dan Pertambahan Penduduk

Air menjadi kebutuhan dasar manusia. Dan kini susah air menjadi ancaman nyata masyarakat penduduk dunia.

Sabtu, 14 Oktober 2023
A A
Ilustrasi kekeringan. Foto bernswaelz/pixabay.com.

Ilustrasi kekeringan. Foto bernswaelz/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Emisi gas rumah kaca yang terus meningkat telah berdampak pada peningkatan laju kenaikan suhu udara. Akibatnya, proses pemanasan global terus berlanjut dan berdampak pada fenomena perubahan iklim yang dapat memicu krisis air, krisis pangan, bahkan krisis energi, serta meningkatnya frekuensi, intensitas dan durasi kejadian bencana hidrometeorologi.

“Jadi, krisis air menjadi ancaman serius sekaligus nyata, sehingga harus menjadi perhatian seluruh negara,” tegas Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati dalam acara 2nd Stakeholders Consultation Meeting, the 10th World Water Forum yang diselenggarakan di Bali pada 12 Oktober 2023.

Dwikorita menambahkan, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada tahun 2022 lalu melaporkan bahwa planet Bumi jauh lebih hangat 1,15°C kurang lebih 0,13°C dibandingkan rata-rata suhu udara permukaan pada masa pra-industri (1850-1900). Saat ini, dalam penilaian awal (September 2023), menunjukkan tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.

Baca Juga: Krisdyatmiko: Kebijakan Bagi-bagi Rice Cooker Tidak Tepat dan Boros Energi

Dampak dari variabilitas dan perubahan iklim sering kali dirasakan melalui air. Dinamika siklus air dan interaksinya dengan manusia menghasilkan pola ketersediaan sumber daya air yang bervariasi secara spasial dan temporal. Selain itu, dampak ekstrem terkait air sangat memengaruhi kehidupan, perkembangan, dan keberlanjutan ekosistem, serta masyarakat dan individu.

Selain perubahan iklim, tantangan lain yang dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan air adalah ekstraksi air tanah yang menyebabkan penurunan muka air tanah. Akhirnya berdampak pada penurunan muka tanah. Selain itu, musim kemarau yang berkepanjangan, tidak meratanya aksesibilitas serta distribusi air bersih dan infrastruktur untuk pengelolaan sumber daya air, juga tantangan mewujudkan kesetaraan dan keadilan terhadap ketersediaan air.

“Jika terus dibiarkan, maka krisis air juga akan berujung pada krisis pangan, krisis energi, bahkan krisis sosial,” kata Dwikorita.

Baca Juga: Kilang Hidrogen Hijau Pertama di Indonesia Resmi Beroperasi

Semakin menipis sumber daya alam, termasuk air, juga disebabkan jumlah populasi penduduk dunia yang terus bertambah. Artinya, semua negara harus melakukan aksi mitigasi dan adaptasi secara sistematis dan kolaboratif, serta merumuskan kebijakan konservasi dan pengelolaan sumber daya air secara efisien berbasis ilmu pengetahuan.

“Ini penting segera dilakukan karena air adalah salah satu kebutuhan dasar hidup manusia,” imbuh Dwikorita.

Sementara tidak semua negara di dunia memiliki akses air bersih. Dwikorita yang juga anggota Dewan Eksekutif World Meteorological Organization (WMO) mendorong negara-negara di dunia untuk melakukan pemerataan sumber daya air yang berkeadilan.

Baca Juga: Konflik Sawit di Seruyan, DPR Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Emisi gas rumah kacaFakultas Geografi UGMICERM 2023Kepala BMKG Dwikorita Karnawatikrisis airWMOWorld Water Forum

Editor

Next Post
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Nahrowi Ramli.Foto fapet.ipb.ac.id.

Nahrowi Ramli: Ganti Impor 1 Juta Pakan Ternak dengan Maggot

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media