Jumat, 27 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Magma Erupsi Gunung Ruang 2024 Alami Dekompresi Setara Erupsi Gunung Vesuvius 79 Masehi

Dengan menggunakan teknik analisis mikroskopik, geokimia, dan pemodelan tekanan, para peneliti menunjukkan bahwa magma Gunung Ruang mengandung kristal besar.

Kamis, 17 April 2025
A A
Dosen Geografi Lingkungan UGM, Indranova Suhendro bersama tim meneliti Gunung Ruang usai erupsi 2024. Foto Dok. Indranova Suhendro.

Dosen Geografi Lingkungan UGM, Indranova Suhendro bersama tim meneliti Gunung Ruang usai erupsi 2024. Foto Dok. Indranova Suhendro.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Di tengah malam yang tenang di bulan April 2024 silam, langit di atas Pulau Ruang, Sulawesi Utara tiba-tiba berubah muram. Gunung Ruang, salah satu gunung api aktif di Kepulauan Sangihe, meletus setelah lebih dari dua dekade dalam kondisi dorman.

Dua fase letusan dahsyat terjadi dalam rentang waktu dua minggu, yaitu pada 17 dan 30 April. Keduanya dikategorikan sebagai erupsi sub-Plinian, yakni jenis letusan yang setara dengan erupsi Gunung Kelud tahun 2014.

Namun di balik visual dramatis ini, para ahli gunung api justru menemukan sesuatu yang jauh lebih mencengangkan. Letusan ini bukan hanya soal asap dan debu, tetapi tentang magma yang tidak biasa karena begitu padat dengan kristal sehingga mengubah seluruh cara letusan itu bekerja.

Baca juga: TPA Benowo, Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik di Surabaya

Temuan ini diangkat dalam sebuah studi ilmiah oleh tim peneliti lintas institusi, termasuk dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipublikasikan dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research dan dirilis pada 14 April 2025.

Dosen Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi UGM, Indranova Suhendro berperan sebagai ketua tim peneliti mengungkapkan bahwa Gunung Ruang menyimpan sebuah keunikan yang bisa menjadi kunci untuk memahami perilaku letusan-letusan eksplosif di masa depan.

“Magma Gunung Ruang mengalami dekompresi yang sangat cepat, setara dengan erupsi ‘Pompeii’ Gunung Vesuvius 79 Masehi dan erupsi Gunung Pinatubo tahun 1991, tetapi kolom letusannya jauh lebih kecil. Sebab magmanya terlalu padat kristal, sehingga terlalu berat untuk terdorong ke atmosfer lebih jauh,” ujar Indranova, Rabu, 16 April 2025.

Baca juga: Mendesain Kota Bandung Berbasis Mitigasi Tanah Bergerak Akibat Sesar Lembang

Tim peneliti mencatat bahwa kolom abu dari dua kali letusan Gunung Ruang hanya menjulang setinggi 9 hingga 19 kilometer. Untuk ukuran letusan sub-Plinian, angka ini termasuk pendek. Padahal magma yang naik ke permukaan saat itu bergerak sangat cepat dengan laju dekompresinya mencapai 29 megapascal per detik.

Dalam banyak kasus, kecepatan seperti ini bisa menghasilkan letusan yang lebih besar bahkan mencapai intensitas Plinian dengan kolom abu yang menjulang tinggi dan dampak yang lebih luas. Kenyataannya, kolom letusan Gunung Ruang malah tertahan.

“Ini membingungkan awalnya. Sampai akhirnya, kami menemukan penyebabnya, yakni magma yang terlalu padat karena dipenuhi kristal membuat letusan seakan terhambat dari dalam,” jelas dia.

Baca juga: Empat Provinsi Dilanda Bencana Hidrometeorologi, Waspada Masa Pancaroba

Dengan menggunakan teknik analisis mikroskopik, geokimia, dan pemodelan tekanan, para peneliti menunjukkan bahwa magma Gunung Ruang mengandung kristal besar, seperti plagioklas dan amfibol dalam jumlah luar biasa banyak hingga mencapai 37-87 persen volume pumis. Fenomena ini menyebabkan berat jenis magma meningkat sehingga membatasi daya dorong letusan.

“Ibaratnya seperti balon udara yang dibebani terlalu banyak manusia atau overcapacity, kemampuannya untuk melayang ke udara jadi semakin rendah” tambah Indranova dengan analogi sederhana.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Dosen Geografi Lingkungan UGM Indranova Suhendroerupsi sub-PlinianGunung RuangJournal of Volcanology and Geothermal Research

Editor

Next Post
Pemerintah menghentikan pemasangan pagar laut diperairan Tangerang, Banten, 9 Januari 2025. Foto Dok. KKP.

Anggota Komisi IV DPR Soroti Deretan Kasus Pagar Laut yang Tak Kunjung Usai

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media