Baca juga: MK Batalkan Sanksi Bagi Masyarakat yang Berkebun di Hutan Tanpa Tujuan Komersial
Meski begitu, hasil penelitian yang telah terbit dalam International Journal of Hospitality Management 2025 itu memperlihatkan, bahwa rasa kagum saja tidak cukup. Ia baru bermakna ketika berubah menjadi kesadaran dan keyakinan untuk bertindak.
“Peran environmental knowledge juga penting. Sebab, semakin tinggi pemahaman seseorang tentang isu lingkungan, semakin kuat pula hubungan antara awe dan mindful consumption,” terang dia.
Dari sejumlah responden yang merespon penelitian ini, Mita menyampaikan mereka yang melakukan mindful consumption beralasan karena ajaran agama. Ajaran agama memberi dogma bila perilaku berlebihan sebagai perilaku yang tidak disukai Tuhan. Alasan lainnya menyisakan makanan sebagai perilaku yang tidak menghormati mereka yang kelaparan.
Baca juga: Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, Orang Indonesia Telan 15 Gram Mikroplastik Per Bulan
Dari keseluruhan alasan tersebut, ada pula yang berhasil mengontrol diri karena mereka beralasan lagi diet atau alasan kesehatan. Meskipun ada juga yang gagal karena tidak kuasa menolak kelezatan dessert yang terus tersaji.
“Mindful consumption bukanlah hal yang mudah, tetapi sebuah pergulatan antara impuls dan kendali diri. Dari sini kita belajar, bahwa hotel dan restoran tidak hanya menjual makanan, tetapi juga membentuk pengalaman emosional. Dengan desain interior yang menenangkan, variasi menu yang menggugah, dan edukasi lingkungan yang halus, awe menurut pendapat saya dapat diarahkan menjadi perilaku konsumsi yang lebih bijak,” papar Mita.
Dari penelitian yang ia lakukan, pembelajaran lain bagi konsumen bukan hanya soal kenyang tetapi juga rasa syukur. Setiap makanan yang dihabiskan adalah langkah kecil untuk bumi. Ia menandaskan awe dapat menjadi jembatan antara kemewahan dan keberlanjutan.
“Dari pengalaman sederhana di meja buffet, kita bisa belajar mindfulness, kepedulian, dan tanggung jawab. Karena mindful consumption bukan sekadar tren, tetapi sebuah panggilan moral di tengah dunia yang penuh kelimpahan,” imbuh dia. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post