“Kolaborasi ini wujud interdisiplin dan multidisiplin, agar tidak ada ego sektoral. Tujuan utamanya adalah kemaslahatan bersama, terutama meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar dia.
Kolaborasi riset ini bisa menjadi langkah awal yang produktif untuk membangun sinergi riset. Khususnya dalam penerapan fitosanitari dan Teknik Serangga Mandul (TSM) berbasis teknologi nuklir yang bermanfaat bagi peningkatan keamanan pangan dan daya saing komoditas hortikultura Indonesia.
Perwakilan BRIN, Murni Indarwatmi, menyampaikan peluang pemanfaatan teknologi nuklir di sektor perlindungan tanaman sangat besar, terutama dalam proses pascapanen untuk memenuhi standar ekspor.
Baca juga: Menunggu Peta Nasional Ekosistem Laut untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Saat pascapanen, pemanfaatan iradiasi khususnya untuk buah-buahan dalam perlakuan fitosanitari. Dengan iradiasi, radiasi bisa menembus hingga ke dalam buah dan membunuh telur maupun larva hama lalat buah yang tersembunyi.
Meski begitu, Murni mengakui masih ada tantangan berupa persepsi masyarakat terkait nuklir yang kerap diasosiasikan dengan bom atau kecelakaan reaktor.
“Sebenarnya iradiasi ini tidak ada bahan radioaktif yang menempel sama sekali pada produk. Dosisnya kecil dan aman, justru memastikan buah yang diekspor bebas dari hama,” kata dia. [WLC02]
Sumber: UGM
Discussion about this post