Wanaloka.com – Tak hanya curah hujan tinggi, banjir yang kerap melanda kawasan Jabodetabek juga disebabkan berbagai faktor lain yang semakin memperburuk kondisi. Ada empat faktor utama penyebab banjir di wilayah ini, yaitu penurunan muka tanah (land subsidence), perubahan tata guna lahan (land use change), kenaikan muka air laut, serta fenomena cuaca ekstrem.
“Penurunan muka tanah yang berkontribusi hingga 145 persen terhadap peningkatan risiko banjir,” ungkap Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yus Budiono memaparkan hasil risetnya dalam talkshow di kanal Youtube BRIN Indonesia, Jumat, 7 Maret 2025.
Sementara perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali juga meningkatkan risiko banjir hingga 12 persen, sementara kenaikan muka air laut hanya berdampak sekitar 3 persen. Bahkan tren kejadian banjir di Jabodetabek beberapa tahun terakhir menunjukkan ada peningkatan intensitas peristiwa ekstrem.
“Perubahan iklim global menyebabkan lebih banyak hujan ekstrem, seperti yang terjadi pada 1 Januari 2020 dan akhir Januari 2025. Curah hujan mencapai lebih dari 300 mm, jauh di atas normal,” jelas dia.
Lebih lanjut, Yus menjelaskan bahwa banjir di Jabodetabek bisa dikategorikan dalam tiga jenis. Banjir akibat hujan lokal (torrential rain flood), banjir akibat luapan sungai (fluvial flood), serta banjir akibat pasang laut (coastal flood).
“Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu lebih dominan sebagai fluvial flood, di mana hujan terjadi lebih intens di bagian hulu dan menyebabkan luapan air di sungai-sungai besar,” terang dia.
Pengelolaan sumber daya air
Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Luki Subehi melalui pesan tertulisnya menambahkan, banjir juga dipengaruhi pengelolaan sumber daya air dan perubahan tata guna lahan di wilayah perkotaan.
Pengurangan luas hutan dan daerah resapan air di wilayah hulu, khususnya di sepanjang Sungai Bekasi dan Ciliwung, menjadi salah satu pemicu utama peningkatan aliran air permukaan yang berujung pada banjir.
“Banjir di Bekasi, misalnya, terjadi hampir setiap tahun karena daerah hulunya kurang mampu meresapkan air. Sementara daerah dataran telah dipenuhi permukiman,” imbuh dia.
Selain itu, sistem drainase di Jabodetabek yang sudah tidak memadai turut memperparah kondisi banjir. Luki menyoroti banyak sistem drainase yang masih menggunakan perhitungan lama tanpa memperhitungkan peningkatan hujan ekstrem akibat perubahan iklim dan perkembangan tata guna lahan.
“Pembangunan kawasan permukiman baru sering kali tidak diiringi dengan sistem drainase yang memadai, sehingga limpasan air hujan tidak dapat tertampung dengan baik,” ungkap dia.
Salah satu langkah mitigasi yang perlu segera dilakukan adalah pengerukan sungai dan saluran air sebelum musim hujan tiba untuk meningkatkan kapasitas aliran air. Di beberapa negara seperti Belanda, konsep Room for Water diterapkan dengan menyediakan kolam-kolam penampungan air di sekitar sungai.
Discussion about this post