Baca Juga: Korban Longsor Bone Bolango Jadi 10 Orang Tewas dan 43 Orang Hilang
Dwikorita juga menjelaskan fenomena hujan di musim kemarau tidak lepas dari letak geografis wilayah Indonesia. Di mana Indonesia berada di antara dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia-sekaligus pertemuan di antara dua Samudra besar yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
“Fenomena iklim dan cuaca di Indonesia sangat dipengaruhi faktor-faktor dinamika cuaca yang beragam. Selama musim kemarau, adanya potensi gangguan seperti MJO (Madden-Julian Oscillation) dan gelombang atmosfer lainnya tetap dapat menyebabkan pembentukan awan hujan,” jelas dia.
Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menambahkan bahwa peningkatan curah hujan akibat gangguan fenomena atmosfer tidak akan terjadi berhari-hari, tetapi diprediksi hanya 1-3 hari di setiap wilayah. Seperti wilayah Jakarta, Banten yang pekan kemarin diguyur hujan lebat, saat ini sudah mulai cerah kembali.
Baca Juga: Desain Bandara YIA Diklaim Tahan Gempa Megathrust M8,7 dan Tsunami
“Kondisi tersebut diprediksi akan menurun. Wilayah Jawa, Banten, Bali, dan Nusa Tenggara akan kembali mengalami kondisi musim kemarau yang normal,” ujar Guswanto.
Oleh karenanya, penting bagi masyarakat Indonesia dalam memahami kompleksitas fenomena iklim dan cuaca di Indonesia-plus dampak perubahan iklim. BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memonitor perkembangan informasi cuaca yang dinamis melalui seluruh kanal informasi BMKG seperti aplikasi InfoBMKG dan media sosial BMKG. [WLC02]
Sumber: BMKG
Discussion about this post