Sabtu, 10 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Iklim Sulit Diprediksi, BMKG Gunakan Kecerdasan Buatan

Penggunaan AI menjadi terobosan untuk penyusunan prediksi perubahan iklim agar lebih cepat, detail, dan presisi hingga tingkat kabupaten.

Kamis, 28 Agustus 2025
A A
Ilustrasi prediksi perubahan iklim dengan AI. Foto geralt/pixabay.com.

Ilustrasi prediksi perubahan iklim dengan AI. Foto geralt/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkenalkan pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk meningkatkan akurasi prediksi musim hujan. Penggunaan AI menjadi langkah terobosan dalam penyusunan prediksi curah hujan yang lebih cepat, detail, dan presisi hingga tingkat kabupaten untuk prediksi iklim.

Informasi yang dihasilkan diharapkan dapat lebih relevan dan bermanfaat bagi sektor pertanian, energi, kesehatan, infrastruktur, serta kebencanaan yang sangat bergantung pada kondisi iklim.

“Di tengah tantangan perubahan iklim global yang kian sulit diproyeksikan, inovasi ini memastikan informasi BMKG tetap andal dan berguna bagi masyarakat,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat membuka Rapat Nasional Prediksi Musim Hujan 2025/2026 di Yogyakarta, Selasa, 26 Agustus 2025.

Baca juga: Jatam Menduga Badan Industri Mineral untuk Memfasilitasi Pengusaha Tambang Rakus

Ia menjelaskan teknologi AI telah mulai digunakan secara operasional dalam Climate Outlook 2025. Pemanfaatan AI membuat prediksi berbasis data empiris menjadi lebih presisi.

Forum itu membahas dinamika iklim terkini, termasuk kondisi netral pada fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang membuat arah musim hujan lebih sulit diprediksi karena tidak aktifnya dominasi driver iklim regional tersebut. Menurut Dwikorita, kondisi netral ENSO dan IOD menuntut kewaspadaan lebih tinggi.

“Kemarau tahun ini justru ditandai banjir di Jabodetabek pada Juli, sementara di Sumatera dan Kalimantan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Ini membuktikan pengetahuan tentang ENSO dan IOD saja tidak cukup. Kami harus mengantisipasi faktor regional dan anomali lokal dengan pendekatan baru, termasuk melalui teknologi AI,” papar dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Artificial IntelligenceBMKGkecerdasan buatanperubahan iklim

Editor

Next Post
Susur dan Tanam Mangrove di Ekowisata Mangrove Wonorejo di Surabaya, Jawa Timur oleh Delegasi AUN Summer Camp 11-20 Agustus 2025. Foto Istimewa.

Riset Konservasi dan Rehabilitasi Hasilkan Temuan Manfaat Mangrove dari Akar hingga Buah

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media