Guru Besar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof. Ova Emilia menambahkan, perubahan iklim mengakibatkan vektor-vektor atau penyebab tersebut hidup lebih panjang atau berubah perilaku.
“Akibatnya, muncul penyakit-penyakit yang mungkin belum pernah ditemukan sebelumnya. Bukan tidak mungkin ke depan akan muncul problem-problem (penyakit baru) seperti Covid-19,” papar Ova dalam webinar bertema Pemikiran Bulaksumur #11: Kesehatan Manusia dan Planet Bumi pada Juni 2022.
Mitigasi Bertingkat
Menurut Ova, mitigasi atas ancaman perubahan iklim pada kesehatan masyarakat perlu melibatkan peran universitas untuk mendiseminasikan perilaku-perilaku ‘green’ atau yang berpikir terkait keberlanjutan planet bumi ini. Universitas juga diharapkan dapat menghasilkan banyak penelitian untuk memitigasi bencana perubahan iklim, serta membantu untuk membuat perencanaan dan kebijakan publik yang diperlukan.
Baca Juga: Gerakan Global Climate Srike: Waktu Kian Sempit, Bumi Serukan Darurat Iklim
Guru Besar dari FKKMK lainnya, Prof. Laksono Trisnantoro menambahkan, mitigasi kesehatan masyarakat dari bahaya perubahan iklim dilakukan mulai dari tingkat individu, sosial, sampai tingkatan struktural.
Di tingkat individu, adalah memperbaiki perilaku masyarakat, seperti mendorong untuk memiliki pola hidup sehat. Juga meningkatkan kesadaran masyarakat dengan melibatkannya dalam praktik pencegahan penyakit malaria dan demam berdarah sejak dini.
Di tingkat sosial, berupa pengurangan kemiskinan masyarakat, karena kenyataan di lapangan, kesehatan berkaitan dengan faktor ekonomi.
Sementara di tingkat struktural, seharusnya ada regulasi dan kebijakan yang diperlukan. Pemerintah juga melakukan upaya preventif, berupa monitoring terutama di daerah-daerah terpencil. Apabila ada penemuan kasus bisa segera diobati sebelum terjadi penularan. [WLC02]
Sumber: unair.ac.id, ugm.ac.id
Discussion about this post