Kamis, 12 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tolak Proyek PLT Geothermal, Rakyat Padarincang: Ada Pelanggaran HAM Serius

Pemerintah bernafsu mewujudkan energi baru terbarukan, tetapi melupakan prinsip perlindungan HAM dan sumber kehidupan. Tak terkecuali proyek PLT Geothermal yang penuh risiko itu.

Senin, 11 Desember 2023
A A
Penolakan PLT Geothermal di Padarincang, Banten saat peringatan Hari HAM Internasional. Foto Dok.Walhi.

Penolakan PLT Geothermal di Padarincang, Banten saat peringatan Hari HAM Internasional. Foto Dok.Walhi.

Share on FacebookShare on Twitter

Penguasa yang saat ini memegang amanah untuk meregulasi pengelolaan sumber-sumber penghidupan rakyat, menurut Zenzi, tidak tumbuh bersama persoalan rakyat. Mereka berkuasa, memerintah, membuat undang-undang, mengeluarkan kebijakan bukan atas dasar pemahaman terhadap persoalan rakyat.

Baca Juga: Gakkum KLHK Terapkan Keadilan Restoratif untuk Perusak Lingkungan Hidup

“Ibarat kereta, negara melaju dengan cepat di luar lintasan, bahkan di luar rel. Perubahan begitu cepat, pembangunan begitu cepat, tapi tidak menuju pada kesejahteraan rakyat,” tukas Zenzi.

Ia pun mengutip perkataan khalifah Ali bin Abi Thalib, bahwa “Tidaklah seseorang akan sangat kaya, kecuali sudah terjadi perampasan terhadap hak orang lain”.

Zenzi menambahkan, Indonesia sangat kaya. Gunung, hutan, sungai, laut, dan gugusan pulau-pulau membuat negeri ini memiliki biodiversiti terbesar di dunia. Untuk membangun rumah bagi 270 juta rakyat Indonesia cuma butuh 4 juta hektare.

Baca Juga: Material Banjir di Humbahas adalah Longsoran Tipe Rock Fall

Ironisnya, hari ini sudah 100 juta hektare hutan Indonesia habis dibabat. Dan 60 persen rakyat Indonesia belum punya rumah. Kenapa? Sebab, haknya dirampas sekelompok kecil orang yang jumlahnya hanya setara satu persen dari total penduduk negeri ini. Kelompok satu persen itu merampok dan menumpuk kekayaan di tangannya.

“Saya bangga, bersyukur, dan terharu bisa berdiri di sini. Merasakan semangat dan komitmen dari rakyat yang berani menyatakan tanah tempatnya lahir dan hidup turun temurun adalah sebagai pemiliknya. Di tempat lain, ratusan juta hektare tanah dan hutan telah dicuri oleh maling yang berjumlah satu persen. Pertanyaannya, kenapa maling satu persen itu leluasa mencuri?” tanya Zenzi.

Menurut dia, maling bisa masuk dan mencuri di satu rumah karena dua hal. Pertama, karena rumah itu ditinggalkan. Kedua, karena penghuninya takut kepada si maling, sehingga tidak berani teriak. Padarincang hingga hari ini masih aman dari pencurian dan perampokan, bukan karena kekuasaan tidak mengerahkan kekuatannya.

Baca Juga: Awan Panas Guguran Merapi Akibatkan Hujan Abu Basah di Boyolali dan Magelang

“Tapi karena warga Padarincang sebagai pemilik, berani berteriak melawan siapapun yang mau mencuri haknya,” imbuh Zenzi.

Orang-orang Padarincang berhasil mengusir Danone, menahan pembangunan pembangkit listrik Geotermal, memastikan tanah, air, hutan, sungai, kekayaan dan daya dukung alam untuk diwariskan dengan aman pada generasi selanjutnya.

“Dalam perjuangan yang terus berlangsung di tempat ini, mempertahankan hak, menegakkan hak asasi, saya ingin menyampaikan, kalau suatu hari nanti ada risiko perjuangan yang harus mempertaruhkan nyawa, tolong kabarkan pada saya, saya akan datang bergabung dalam barisan terdepan,” janji Zenzi. [WLC02]

Sumber: Walhi

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Hari HAM InternasionalPadarincang BantenPLT Geothermal PadarincangPLT Panas Bumiproyek strategis nasionalWalhiWilayah Kerja Panas BumiWKP Kaldera Danau Banten

Editor

Next Post
Personel Kapal Pengawas Hiu 01 Ditjen PSDKP, Kementerian Kelautan dan Perikanan menemukan kapal penambang pasir di perairan Pulau Rupat, Provinsi Riau. Foto kkp.go.id.

Strategi KKP Optimalisasi Pengawasan Terintegrasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan 2024

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Banjir di salah satu wilayah di Pulau Jawa. Foto Dok. Walhi.Kebijakan Tata Ruang Abaikan Lingkungan, Bencana Ekologis di Pulau Jawa Terus Berlanjut
    In Lingkungan
    Senin, 9 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media