Jumat, 27 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tren Pertanian Organik Meningkat, Dorong Pemanfaatan Pestisida dan Pupuk Nabati

Inovasi ini tidak hanya menekan penggunaan bahan kimia, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati serta keberlanjutan ekosistem pertanian.

Sabtu, 27 September 2025
A A
Kompos dari sisa dapur untuk pupuk tanaman. Foto melGreenFR/pixabay.com.

Kompos dari sisa dapur untuk pupuk tanaman. Foto melGreenFR/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tren pertanian organik di kalangan masyarakat kini kian mendapat perhatian menjadi salah satu solusi strategis menuju sistem pangan berkelanjutan. Dengan menekankan pengelolaan ekosistem alami tanpa bahan kimia sintetis, pertanian organik tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menjaga kesehatan manusia sekaligus membuka peluang pasar domestik dan ekspor.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Setiari Marwanto, menegaskan tren pertanian organik semakin meningkat di berbagai negara, seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.

“Pertanian organik bukan sekadar gaya hidup, melainkan solusi nyata untuk menjaga kelestarian ekosistem, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memastikan ketahanan pangan di masa depan,” ujar Setiari dalam Webinar EstCropsCorner #19 bertema “Inovasi Teknologi Mendukung Pertanian Organik Berkelanjutan”, Selasa, 23 September 2025.

Baca juga: Pakar Tegaskan Sekolah dan Orang Tua Bisa Menolak MBG Akibat Keracunan Berulang

Namun, di balik prospek menjanjikan, jalan menuju pertanian organik berkelanjutan masih penuh tantangan. Berbagai kendala itu mulai dari produktivitas yang relatif rendah, keterbatasan pupuk organik berkualitas, hingga distribusi dan akses pasar yang belum optimal. Sertifikasi organik yang memerlukan biaya tinggi juga menjadi hambatan bagi petani kecil untuk mengakses pasar internasional.

“Di sinilah peran inovasi dan teknologi menjadi sangat penting,” kata dia.

Meliputi dukungan teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), hingga aplikasi digital dapat membantu petani mengelola lahan secara presisi, memantau kondisi tanah dan iklim secara real-time, serta mengurangi ketergantungan pada input kimia.

Baca juga: UGM dan IPB Bicara Soal Restorasi Hutan dan Reklamasi Bekas Tambang

Pestisida dan pupuk dari nabati

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Prof. Agus Kardinan menyoroti peran pestisida nabati dalam mendukung pertanian organik. Ia mengingatkan dampak Revolusi Hijau pada era 1980-an, ketika penggunaan pestisida sintetis masif hingga disubsidi 80 persen.

“Penyemprotan saat itu bukan lagi sekadar mengendalikan hama, tapi seperti menyiram racun ke ladang. Memang panen berhasil, tapi jangka panjangnya lingkungan rusak, hama resisten, dan residu beracun tertinggal di tanah, air, serta tanaman,” ungkap dia.

Solusinya, Agus mendorong pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia. Tanaman seperti tembakau, daun mimba, akar tuba, cengkeh, serai, hingga minyak atsiri seperti nilam dan jeruk purut terbukti menghasilkan senyawa aktif yang mampu mengendalikan hama secara ramah lingkungan.

Baca juga: BMKG Uji Kesiapsiagaan Dampak Gempa M9,0 Selat Sunda Lewat IOWAVE25

“Saya telah meneliti dan memformulasikan berbagai pestisida nabati lebih dari 20 tahun. Beberapa sudah dipatenkan, digunakan di lapangan, bahkan diekspor ke Jepang,” jelas dia.

Pestisida nabati bekerja dengan cara berbeda dari pestisida kimia. Alih-alih membunuh langsung, pestisida nabati mengganggu siklus biologis hama, memperlambat pertumbuhan, menghambat metamorfosis, dan menurunkan populasi. Contoh nyata adalah selasih yang menghasilkan metil eugenol, atraktan alami efektif untuk perangkap lalat buah.

“Pestisida nabati tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga memberi nilai tambah ekonomi. Bayangkan, harga metil eugenol bisa mencapai Rp1,2 juta per liter, sementara bahan bakunya tumbuh subur di pekarangan kita,” papar Agus.

Baca juga: Jatam Menilai Pemerintah Sedang Memoles Citra Lewat Lahan Tambang Bermasalah

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINpertanian organikpestisida kimiapestisida nabatipupuk nabati

Editor

Next Post
PLTP Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto pln.co.id.

Klaim Ramah Lingkungan, Anggota Komisi XII DPR dan Pakar Ingatkan Risiko Energi Panas Bumi

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media