Minggu, 29 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ani Mardiastuti, Penelitian Ekosistem Air Terjun di Indonesia Masih Terbatas

Air terjun menjadi habitat tumbuhan dan satwa liar. Spesies yang sulit ditemukan di tempat lain mungkin bisa ditemukan di sana.

Minggu, 3 November 2024
A A
Guru Besar Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Prof. Ani Mardiastuti. Foto LinkedIn.

Guru Besar Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Prof. Ani Mardiastuti. Foto LinkedIn.

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu hal menarik lainnya, bagaimana air terjun menciptakan microclimate atau iklim mikro yang lembab dan sejuk.

“Daerah sekitar air terjun biasanya adem dan lembab, yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis lumut dan tanaman khas lainnya,” papar dia.

Di sisi lain, air terjun juga memiliki peran ekologis yang penting. Air yang jatuh menciptakan energi besar dan mengalir dengan cepat, membawa sedimen yang dapat memengaruhi ekosistem di bawahnya.

Baca Juga: Persatuan Masyarakat Peduli Batu Beriga Tolak Tambang Timah Laut

Ia mengingatkan bahwa kualitas air sangat penting untuk keberlangsungan ekosistem tersebut. Jika air terjun tercemar, maka bukan hanya airnya yang rusak, tetapi juga habitat di sekitarnya akan terdampak.

Ani juga berbagi pandangan tentang aktivitas manusia di sekitar air terjun. Bahwa banyak orang datang untuk bermain dan menikmati keindahan air terjun. Namun, harus ingat bahwa kehadiran manusia dapat mengganggu satwa liar yang ada di sana.

Ia pun berpesan agar pengunjung lebih menghargai dan melestarikan air terjun serta keanekaragaman hayati di sekitarnya. Ia menyarankan agar para wisatawan mengunjungi air terjun pada waktu yang tepat, seperti pagi atau sore, untuk menghindari gangguan pada satwa.

“Air terjun adalah warisan alam yang harus dijaga dan lestarikan. Kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati keindahan dan manfaat dari air terjun ini,” tutup dia. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Air TerjunIPB Universitykeanekaragaman hayatimicroclimateProf Ani Mardiastuti

Editor

Next Post
Warga di Morowali memblokade jalan yang diklaim perusahaan mineral pada Juni 2024. Foto Walhi Sulteng.

Potensi Kriminalisasi Warga di Morowali Tinggi Demi Hilirisasi Mineral

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media