Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bambang Hero: Kebakaran Lahan Gambut di Indonesia Sumbang Emisi 50 Persen Lebih

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan gambut hanyalah keberhasilan semu. Sebab kebakaran telah melalap lahan dan asap yang ditimbulkan merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca dan beracun.

Rabu, 25 Januari 2023
A A
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Uiversity,Prof. Bambang Hero Saharjo. Foto infografis.ipb.ac.id

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Uiversity,Prof. Bambang Hero Saharjo. Foto infografis.ipb.ac.id

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo mengungkapkan bahwa kebakaran hutan, khususnya lahan gambut (karhutla) menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia hingga 50,13 persen. Emisi yang ditimbulkan itu lebih besar daripada emisi yang bersumber dari penggunaan energi.

Riset tersebut merupakan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi USA untuk penelitian yang didanai NASA. Riset yang juga dilakukan Bambang tersebut mengambil sampel asap kebakaran lahan gambut untuk mengetahui besaran emisi gas yang dihasilkan. Hasilnya sudah dipublikasi dalam Jurnal Internasional Q1.

Penelitian tersebut dilakukan di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Riset itu juga mengungkapkan asap kebakaran mengandung sekitar 50 persen gas beracun. Salah satu gas beracun adalah gas furan yang ketika diirup ibu hamil dan dapat mengakibatkan cacat bagi bayi yang akan dilahirkan. Ada juga gas hidrogen sianida yang mematikan.

Baca Juga: Beruntun Laut Maluku Diguncang Gempa Magnitudo di Atas 5 Hari Ini

“Gas tersebut sangat berdampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan manusia,” kata Bambang saat menjadi salah satu narasumber Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) COP 27, November 2022.

Masyarakat dan pemerintah harus sadar, bahwa kebakaran hutan dapat muncul kapan saja dan tidak menunggu apakah ada persiapan atau tidak untuk menghadapinya. Bambang mencontohkan, saat musim penghujan pada akhir Desember 2022 hingga awal Januari 2023 juga terdapat kasus kebakaran di beberapa lokasi. Kebakaran tersebut terjadi di Sumatera dan Kalimantan hingga menghanguskan hingga lebih dari 25 hektare lahan.

Sementara BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) telah mengingatkan bahwa La Nina yang terjadi selama tiga tahun (2020, 2021, dan 2022) sudah berakhir dan akan bergeser menjadi El Nino dalam kurun waktu mendatang.

Baca Juga: Gempa Mag5,5 Guncang Laut Maluku, Tempo 30 Menit 2 Gempa Susulan Terjadi

Upaya penting dan wajib dilakukan adalah pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut. Langkah itu pula yang selalu dipertanyakan di setiap pertemuan internasional. Pengendalian kebakaran bukan dilatarbelakangi ada El-Nino atau tidak. Langkah tersebut meliputi pencegahan, pemadaman, dan penanganan pascakebakaran.

Pencegahan Kebakaran
Langkah pencegahan kebakaran hutan sudah dirancang sejak awal secara terencana dan sistematis, sehingga persoalan-persoalan dampak kebakaran pun dapat dikendalikan. Bambang menilai perlu ada upaya pembaruan aspek pencegahan dalam pengendalian kebakaran. Upaya ini dapat dibantu oleh ahli dengan bantuan teknologi terkini, seperti penggunaan satelit.

“Sehingga upaya deteksi dan prediksi kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan secara lebih presisi,” kata Bambang.

Baca Juga: Indonesia Tuan Rumah KTT ASEAN 2023, Menkopolhukam Minta Antisipasi Karhutla

Upaya pencegahan kebakaran juga tidak sekadar mengendalikan dampak negatif yang ditimbulkan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Emisi gas rumah kacaextra ordinary crimeIPB Universitykarhutlakebakaran lahan gambutkejahatan luar biasapemadaman kebakaranpenanganan pascakebakaranpencegahan kebakaranpengendalian kebakaran hutanProfesor Bambang Hero Saharjo

Editor

Next Post
Rob menyebabkan kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang di Kota Semarang, Jawa Tengah, dilanda banjir hingga ketinggian satu meter lebih pada Senin, 23 Mei 2022. Foto Dok BBPD Jawa Tengah

Salah Urus Tata Ruang Jadi Penyebab Utama Bencana Ekologis di Pulau Jawa

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media