”Mineral tersebut dapat mengontaminasi tanah, sungai, dan lautan. Kandungannya dapat meningkat di lingkungan dengan adanya perubahan iklim global. Ini sekaligus menjadi jalur bagi arsen ditransfer dari lingkungan ke siklus makanan,” jelas dia.
Pada zaman kuno, arsen telah dimanfaatkan manusia untuk pewarna cat, kain, dan wallpaper. Sebab warnanya cerah dan menarik. Sementara era industry, arsen dimanfaatkan untuk farmasi dan pengobatan tradisional, serta kosmetik.
“Seiring perkembangan zaman saat ini dimanfaatkan untuk pertanian, peternakan, dan semikonduktor,” kata Tuti.
Baca Juga: Yang Unik dari Bencana Palu 2018 , Gempa Bumi Berpusat di Darat yang Memicu Tsunami
Berdasarkan regulasi Food and Agriculture Organization (FAO), rata-rata harian kandungan arsen pada makanan manusia harus diupayakan berada di bawah ambang batas yang ditetapkan, yaitu sebesar 2,1. Sementara regulasi pengendalian berdasarkan Peraturan Badan POM Nomor 5 Tahun 2018, standar arsen di Indonesia untuk bahan pangan ikan, siput, krustasea, echinodermata, reptil, dan amfibi adalah sebesar 0,25 (mg/kg).
“Ini terhitung rendah jika dibandingkan dengan standar negara lainnya. Namun arsen tetaplah unsur yang beracun yang tidak seharusnya dimanfaatkan dalam kehidupan manusia,” imbuh Tuti.
Salah satu upaya mengurangi asupan arsenik pada makanan yang dikonsumsi tubuh adalah melalui variasi diet. [WLC02]
Sumber: BRIN
Discussion about this post