Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Blood Moon, Fenomena Alam Saat Bulan Purnama dan Dapat Diprediksi Jauh Hari

Intensitas warna merah pada gerhana bulan dapat berbeda. Faktor utamanya dipengaruhi kondisi atmosfer bumi.

Rabu, 10 September 2025
A A
Gerhana bulan total atau blood moon. Foto R. Sugeng Joko Sarwono/Dok. ITB.

Gerhana bulan total atau blood moon. Foto R. Sugeng Joko Sarwono/Dok. ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Fenomena ini dapat disaksikan dari berbagai wilayah di Indonesia. Husin mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen ini sebagai kesempatan belajar tentang astronomi sekaligus menikmati keindahan langit malam.

Saturnus tampak dekat dengan bulan

Tak hanya blood moon, masyarakat juga sempat mengamati keberadaan planet Saturnus yang tampak berdekatan dengan bulan di langit pada peristiwa alam lalu. Menurut Taufiq, fenomena itu terjadi karena orbit planet-planet di tata surya berada di bidang yang hampir sama dengan orbit bumi, sehingga sesekali terlihat berkelompok atau berdekatan.

Baca juga: Janji Menteri Lingkungan Hidup, Fokuskan Anggaran 2026 untuk Kelola Sampah dan Kendalikan Perubahan Iklim

“Saturnus memang sedang berada di area langit yang tidak terlalu jauh dari posisi bulan. Tapi itu fenomena yang berbeda dengan gerhana. Meski begitu, tetap menarik untuk diamati,” kata dia.

Sementara pada 21 September 2025 juga akan terjadi gerhana matahari parsial. Namun, fenomena ini tidak dapat disaksikan dari Indonesia.

“Gerhana tersebut hanya bisa diamati dari wilayah selatan, terutama Selandia Baru,” jelas dia.

Baca juga: Fenomena Blood Moon 7-8 September 2025 adalah Salah Satu yang Terlama

Fenomena alam yang bisa diprediksi

Baik gerhana bulan maupun matahari merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi jauh hari karena mengikuti perhitungan astronomi yang presisi. Bahkan prediksi itu sampai meliputi detik kejadiannya. Namun pengamatan langsung tetap penting dilakukan untuk mengoreksi atau memverifikasi perhitungan.

“Itulah sebabnya, gerhana selalu menjadi momen penting. Tidak hanya bagi masyarakat umum tetapi juga bagi ilmuwan,” kata Taufiq.

Pengamatan gerhana bulan total di Stasiun Bumi dan Observasi di Agam, Kototabang, Sumatera Barat dilakukan kolaborasi antara tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan fasilitas observasi. Hasil pengamatan dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena gerhana bulan total dan atmosfer Bumi lebih lanjut.

Baca juga: Geopark Kaldera Toba Kembali Menerima Status Green Card

Namun pengamatan di sana sempat mengalami sedikit tantangan akibat kondisi cuaca. Sebab penampakan gerhana bulan total sempat terhalang oleh awan tebal sehingga menghalangi pandangan teleskop dan kamera.

“Tapi tim tetap berupaya mengumpulkan data dan melaksanakan pengamatan,” kata Perekayasa Ahli Pertama Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Fasilitas Riset, dan Kawasan Sains dan Teknologi BRIN, Ridho Pratama, Selasa, 9 September 2025.

“Cuaca yang tidak mendukung membuat pengamatan GBT menjadi lebih sulit., sehingga tim pengamat harus bekerja keras untuk mendapatkan data yang akurat,” ungkapnya.

Tim pengamatan berhasil mengambil gambar pada pukul 00.52.40 WIB. [WLC02]

Sumber: ITB, IPB University, BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: blood moonBRINFakultas MIPA ITBgerhana bulan total

Editor

Next Post
Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup se-ASEAN di Malaysia, 3 September 2025. Foto Dok. KLH.

Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup se-ASEAN, Krisis Lingkungan Global Tak Kenal Batas Negara

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media