Total ada empat skenario tsunami yang diuji. Meliputi Skenario Megathrust Selat Sunda M9,0 pada 25 September 2025, Skenario Subduksi Makran Pakistan M9,0 pada 15 Oktober 2025, Skenario Non-Seismik (Gunung Api Fani Maore Mozambik) pada 25 Oktober 2025, dan Skenario Megathrust Utara Sumatera M9,2 pada 5 November 2025, bertepatan dengan Hari Kesadaran Tsunami Dunia (World Tsunami Awareness Day).
Kegiatan ini mencakup Table Top Exercise untuk menguji SOP, gladi komunikasi, hingga Simulasi Evakuasi Mandiri yang penting bagi masyarakat. Partisipasi Indonesia dalam IOWAVE25 disebut wujud nyata komitmen terhadap inisiatif global “Early Warning for All”. BMKG menekankan peringatan dini tsunami harus diwujudkan bukan hanya sebagai early warning atau peringatan dini, melainkan juga sebagai early action atau respons cepat.
Latihan IOWAVE 2025 juga mendorong masyarakat di daerah rawan tsunami untuk melaksanakan Latihan Evakuasi Mandiri, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Tsunami Ready Community. Masyarakat harus terlatih dan memahami bagaimana merespons peringatan tsunami, baik yang bersumber dari sistem InaTEWS.
Baca juga: Ancaman Lahan Sawah di Indonesia, Tidak Dilindungi dan Alih Fungsi Kian Mengkhawatirkan
“Tsunami adalah bencana low frequency (jarang terjadi), namun high impact (dampak tinggi) yang dapat merenggut puluhan hingga ribuan nyawa,” tutup Daryono.
Tujuan mulia InaTEWS adalah zero victims apabila terjadi gempa dan tsunami. Tujuan ini dapat tercapai jika semua komponen, baik pemerintah, lembaga, media, dan Masyarakat bersatu padu dan terlatih untuk merespons peringatan dengan cepat, tertib, dan terkendali. [WLC02]
Sumber: BMKG







Discussion about this post