“Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor,” jelas dia.
Yusuf juga melontarkan kritik keras terhadap wacana mengenai subsidi tiket pesawat. Ia menilai subsidi tiket hanya strategi pemasaran yang tidak menyelesaikan akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara. Orang jadi berpikir dua kali untuk berwisata jauh itu karena harga tiket pesawat tinggi.
“Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui prosedur penurunan pajak suku cadang pesawat dan maskapai bandara juga harga avtur,” tutur dia.
Baca juga: Tahun 2026, Tetaplah Bodoh
Lebih lanjut, Yusuf juga mengritisi ide work from mall (WFM) yang dinilai kurang tepat. Ketimbang bekerja dari pusat perbelanjaan besar, ia lebih mendorong konsep bekerja dari destinasi wisata (work from tourism destination).
“Ketimbang menghidupkan pariwisata kapitalis, mari coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat,” ajak dia.
Yusuf menekankan pariwisata inklusif adalah kunci karena penyegaran pikiran atau healing merupakan hak seluruh lapisan masyarakat. Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang membangun ruang publik gratis hingga tingkat kecamatan. Namun, ia juga mengingatkan agar pengelolaanya dilakukan secara profesional dan tidak ala kadarnya.
“Pariwisata inklusif sejatinya harus mampu menarik minat masyarakat luas, termasuk dari luar daerah. Tentunya dengan memegang teguh prinsip pengelolaan yang baik dan aspek keselamatan bencana,” kata dia. [WLC02]
Sumber: UGM







Discussion about this post