Jumat, 23 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Catatan Kritis Kebijakan Wisata di Balik Tren Micro Tourism

Ketimbang menghidupkan pariwisata kapitalis, mari coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat.

Jumat, 2 Januari 2026
A A
Wisatawan liburan Nataru 2025/2026 di Pantai Anyer, Banten. Foto Kementerian Pariwisata.

Wisatawan liburan Nataru 2025/2026 di Pantai Anyer, Banten. Foto Kementerian Pariwisata.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sektor pariwisata nasional mencatatkan pergeseran tren signifikan pada momentum Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui penguatan fenomena micro tourism menjadi tren pariwisata akhir-akhir ini. Fenomena micro tourism adalah berwisata dengan berfokus pada perjalanan dengan skala kecil, jarak dekat, dan durasi singkat.

Pola perjalanan ini menekan biaya perjalanan tanpa mengurangi intensitas rekreasi, berfokus pada eksplorasi area lokal yang dinilai lebih aman.

Peneliti Pariwisata UGM, M. Yusuf mencontohkan lonjakan wisatawan di destinasi seperti Yogyakarta dan kota tujuan wisata lainnya yang didorong kemudahan akses tol, sehingga memangkas waktu tempuh secara drastis. Selain aksesibilitas, faktor perceived safety (persepsi keamanan) terhadap bencana alam juga menjadi pertimbangan krusial wisatawan.

Baca juga: Jelang Seabad Museum Geologi Bandung, Bangun Peta Jalan Akses Kebumian untuk Masyarakat

“Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak,” ujar Yusuf, Senin, 2 Januari 2026.

Di balik tren tersebut, Yusuf memberikan beberapa catatan kritis. Mengenai urgensi mitigasi bencana pada destinasi wisata yang ada. Sebab setiap destinasi wisata harus memiliki roadmap mitigasi bencana yang berisikan tiga poin penting. Pertama, identifikasi potensi bencana. Kedua, bagaimana menggunakan sumber daya baik untuk menjadi satu modal atau kekuatan dalam merespon bencana. Ketiga, jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan.

Kritik lainnya menyorot penumpukan wisatawan (overtourism) yang kerap terjadi pada akhir pekan. Ia menyarankan agar pengelola wisata dapat mengembangkan weekdays tourism melalui health and wellness tourism. Sebab peluang untuk menciptakan program wisata pada hari kerja sangat terbuka lebar.

Baca juga: Hari Pertama Tahun 2026, Indonesia Diguncang Tiga Gempa Menengah Skala 5 Magnitudo

Apalagi program ini akan meringankan beban infrastruktur dan akan memecah tumpukan pengunjung di akhir pekan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Health and Wellness TourismMicro TourismPeneliti Pariwisata UGMTren PariwisataWeekdays Tourism

Editor

Next Post
Ilustrasi gas karbon monoksida akibat kebakaran gedung. Foto Jenniferbeebeart/pixabay.com.

Bahaya Korsleting, Pemicu Utama Kebakaran Rumah dan Karbon Monoksida

Discussion about this post

TERKINI

  • Advokasi RUU Masyarakat Adat oleh Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat. Foto Istimewa.RUU Masyarakat Adat Tak Kunjung Disahkan, Jutaan Hektar Wilayah Adat Dirampas
    In Lingkungan
    Selasa, 20 Januari 2026
  • Pembersihan fasilitas layanan kesehatan di Aceh pascabencana. Foto Dok. Kementerian PU.Komisi II DPR Minta Rekonstruksi Fasilitas Publik Pascabencana Sumatera Tuntas Dua Tahun
    In News
    Selasa, 20 Januari 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Jalan Menyelamatkan Alam Sumatra Lewat Penegakan Hukum Adil dan Menyeluruh
    In Lingkungan
    Senin, 19 Januari 2026
  • Diskusi “Merawat Karst Gunung Sewu: Konflik Agraria, Air, dan Kuasa” di PSPK UGM, 14 Januari 2026. Foto Pito Agustin/Wanaloka.com.Pembangunan Pariwisata di Gunungkidul Ancam Ruang Hidup Kawasan Karst Gunung Sewu
    In News
    Senin, 19 Januari 2026
  • Ilustrasi gajah tua dengan sepasang gading yang utuh. Foto HFGVDCSS/pixabay.com.Gajah Kenya Mati Tinggalkan Gading Utuh, Bukti Hidup dalam Habitat Aman
    In Lingkungan
    Senin, 19 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media