Senin, 31 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Catatan Kritis Kebijakan Wisata di Balik Tren Micro Tourism

Ketimbang menghidupkan pariwisata kapitalis, mari coba berpihak kepada masyarakat rentan melalui desa wisata yang dikelola masyarakat.

Jumat, 2 Januari 2026
A A
Wisatawan liburan Nataru 2025/2026 di Pantai Anyer, Banten. Foto Kementerian Pariwisata.

Wisatawan liburan Nataru 2025/2026 di Pantai Anyer, Banten. Foto Kementerian Pariwisata.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sektor pariwisata nasional mencatatkan pergeseran tren signifikan pada momentum Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui penguatan fenomena micro tourism menjadi tren pariwisata akhir-akhir ini. Fenomena micro tourism adalah berwisata dengan berfokus pada perjalanan dengan skala kecil, jarak dekat, dan durasi singkat.

Pola perjalanan ini menekan biaya perjalanan tanpa mengurangi intensitas rekreasi, berfokus pada eksplorasi area lokal yang dinilai lebih aman.

Peneliti Pariwisata UGM, M. Yusuf mencontohkan lonjakan wisatawan di destinasi seperti Yogyakarta dan kota tujuan wisata lainnya yang didorong kemudahan akses tol, sehingga memangkas waktu tempuh secara drastis. Selain aksesibilitas, faktor perceived safety (persepsi keamanan) terhadap bencana alam juga menjadi pertimbangan krusial wisatawan.

Baca juga: Jelang Seabad Museum Geologi Bandung, Bangun Peta Jalan Akses Kebumian untuk Masyarakat

“Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membludak,” ujar Yusuf, Senin, 2 Januari 2026.

Di balik tren tersebut, Yusuf memberikan beberapa catatan kritis. Mengenai urgensi mitigasi bencana pada destinasi wisata yang ada. Sebab setiap destinasi wisata harus memiliki roadmap mitigasi bencana yang berisikan tiga poin penting. Pertama, identifikasi potensi bencana. Kedua, bagaimana menggunakan sumber daya baik untuk menjadi satu modal atau kekuatan dalam merespon bencana. Ketiga, jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan.

Kritik lainnya menyorot penumpukan wisatawan (overtourism) yang kerap terjadi pada akhir pekan. Ia menyarankan agar pengelola wisata dapat mengembangkan weekdays tourism melalui health and wellness tourism. Sebab peluang untuk menciptakan program wisata pada hari kerja sangat terbuka lebar.

Baca juga: Hari Pertama Tahun 2026, Indonesia Diguncang Tiga Gempa Menengah Skala 5 Magnitudo

Apalagi program ini akan meringankan beban infrastruktur dan akan memecah tumpukan pengunjung di akhir pekan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Health and Wellness TourismMicro TourismPeneliti Pariwisata UGMTren PariwisataWeekdays Tourism

Editor

Next Post
Ilustrasi gas karbon monoksida akibat kebakaran gedung. Foto Jenniferbeebeart/pixabay.com.

Bahaya Korsleting, Pemicu Utama Kebakaran Rumah dan Karbon Monoksida

Discussion about this post

TERKINI

  • Karhutla di lahan gambut. Foto Dok. Walhi.Ribuan Titik Api di Lahan Gambut dan Konsesi, Walhi: Bukti Negara Gagal Memaksa Korporasi Bertanggung Jawab
    In Lingkungan
    Senin, 31 Agustus 2026
  • Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra utara, 31 Agustus 2026 pukul 11.19. Foto Dok. Magma Indonesia.Gunung Sinabung Berstatus Siaga, PVMBG: Dimungkinkan Terjadi Erupsi Lebih Besar
    In Bencana
    Senin, 31 Agustus 2026
  • Upaya pemadaman karhutla di Kalimantan, 23 agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Kalimantan, Legislator: Warga Lokal Tak Bisa Terus Disalahkan, Cabut Izin Korporasi yang Terlibat
    In News
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Penanganan karhutla di Lampung Timur, 21 Agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Berulang Bukan Fenomena Iklim, Walhi: Akibat Negara Salah Urus Tak Sampai Akar Masalah
    In Lingkungan
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Titik-titik api karhutla di Pulau Kalimantan. Foto Istimewa.Hukuman Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan: Cabut Izin dan Pulihkan Lingkungan!
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media