Selama proses pemetaan, tim juga dikawal dua personel Babinsa yang telah ditugaskan Komandan Kodim 1501 Ternate, Letkol Adietya Yuni Nurtono selalu Komandan Posko Penanganan Darurat Erupsi Gunungapi Ibu.
Sesuai rencana, pesawat nirawak akan diterbangkan di wilayah utara kawah gunung dari Desa Tokuoku dan Sangaji Nyeku. Dua desa tersebut berada dalam radius kurang dari tujuh kilometer dan berhadapan langsung dengan jalur longsoran material lahar.
Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, Ini Pesan Walhi untuk Pemerintah Terpilih
Menurut warga sekitar yang juga diakui tim Pos Pengamataan Gunungapi Ibu, longsoran material lahar memang baru terbentuk selama gunung tersebut mengalami erupsi tahun ini. Sebelum erupsi, wilayah utara-barat laut dari puncak kawah utama gunung masih berupa hutan dan perkebunan milik warga. Setelah terjadi erupsi, sebagian hutan dan perkebunan miliki empat KK tertutup material longsoran lahar.
Drone Wingtra Gen-2
Dalam operasi pemetaan itu, tim mengerahkan pesawat nirawak bernama Wingtra Gen-2 yang memiliki kemampuan pemetaan cepat untuk visual surveillance. Juga dapat menampilkan tangkapan kejadian secara langsung. Drone jenis tailsitter ini mampu menjangkau coverage area atau cakupan wilayah terbang dalam sekali pemetaan seluas kurang lebih 300 hektare selama kurang lebih 30 menit.
Sesuai jenisnya, drone ini secara sistematis dapat diterbangkan secara vertikal menggunakan dua baling-baling utama. Kemudian dapat berubah mode menjadi fixed wing ketika melakukan misi pemetaan, sehingga tidak membutuhkan area lepas landas dan pendaratan yang luas. Selain itu, proses pesiapan terbangnya pun lebih cepat sehingga tim tidak terlalu lama melakukan proses pemetaan hingga pengolahan data.
Baca Juga: Din Syamsuddin, Muhammadiyah Harus Tolak Konsesi Tambang karena Lingkaran Setan
Pemetaan daerah rawan bencana Gunung Ibu dilatarbelakangi penumpukan material lahar yang dimuntahkan selama erupsi. Penumpukan material itu dapat menjadi ancaman bencana sekunder berupa banjir bandang lahar hujan apabila diabaikan. Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan terkonsentrasi di wilayah puncak gunung hingga hulu-hulu sungai dalam durasi yang cukup lama, maka potensi terjadi bencana sekunder juga semakin besar.
Suharyanto meminta seluruh pihak, baik dari lintas kementerian atau Lembaga, termasuk Pemerintah Maluku Utara dan Pemerintah Halmahera Barat senantiasa bersinergi dalam upaya mengurangi dampak risiko bencana. Ia tidak ingin kejadian banjir lahar hujan seperti di Sumatera Barat yang telah menelan 62 jiwa korban dan 10 lainnya hilang terjadi di Halmahera Barat.
Suharyanto meminta perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang diawali dengan studi lapangan dan kajian yang komprehensif. Salah satunya dengan memetakan besaran material lahar, jalur hulu-hilir sungai, permukiman warga di lereng gunung hingga kondisi kawah puncak utama.
“Kalau memang betul ada penumpukan material sisa erupsi bisa segera diturunkan karena itu berbahaya. Jika terjadi hujan yang luar biasa, maka bisa terjadi banjir bandang,” kata Suharyanto. [WLC02]
Sumber: BNPB
Discussion about this post