Senin, 29 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Din Syamsuddin, Muhammadiyah Harus Tolak Konsesi Tambang karena Lingkaran Setan

Konsesi tambang uuntuk ormas keagamaan dinilai lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.

Selasa, 4 Juni 2024
A A
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Jakarta Selatan, Din Syamsuddin. Foto Muhammadiyah.or.id.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Jakarta Selatan, Din Syamsuddin. Foto Muhammadiyah.or.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2005-2010 dan 2010-2015, Din Syamsuddin berharap bisa bersikap husnuzon atau berbaik sangka atas pemberian konsesi tambang batu bara untuk ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Pemberian konsesi berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara itu dapat dinilai positif sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada ormas keagamaan.

“Namun, itu sangat terlambat. Dan motifnya terkesan untuk mengambil hati. Suuzon (berburuk sangka) tak terhindarkan,” tukas Din dalam pernyataan tertulisnya tertanggal 4 Juni 2024.

Din berkisah, saat diminta menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja sama Antar Agama dan Peradaban yang kemudian dua kali ditolaknya, Din mempersyaratkan agar Presiden Joko Widodo menanggulangi ketidakadilan ekonomi antara kelompok segelintir orang yang menguasai aset nasional di atas 60 persen dengan umat Islam yang terpuruk dalam bidang ekonomi.

Baca Juga: Selama Awal Juni 2024, Gunung Lewotobi Laki-laki 17 Kali Erupsi

Namun Jokowi menjawab hal itu tidak mudah. Menurut Din itu mudah seandainya ada kehendak politik (political will).

“Yang saya mintakan hanya pemerintah melakukan aksi keberpihakan (affirmative actions) dengan menciptakan keadilan ekonomi. Tidak hanya memberi konsesi kepada pihak tertentu. Juga, agar mau menaikkan derajat satu-dua pengusaha muslim menjadi setara dengan taipan. Ini perlu agar kesenjangan ekonomi yang berhimpit dengan agama dan etnik tidak menimbulkan bom waktu bagi Indonesia,” papar Din.

Persyaratan yang tak dipenuhi itu menjadi alasan Din untuk memiih mundur. Dan kini, tiba-tiba kehendak politik itu muncul lewat Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia. Walau tidak ada kata terlambat, pemberian konsesi itu tidak dapat tidak mengandung masalah.

Baca Juga: Fahmy Radhi, WIUPK Membuat Ormas Keagamaan Terjerembab di Dunia Hitam Tambang

Pertama, pemberian konsesi tambang batu bara kepada NU dan Muhammadiyah tetap tidak seimbang dengan jasa dan peran kedua ormas Islam itu. Dan tetap tidak seimbang dengan pemberian konsesi kepada perusahan-perusahaan yang dimiliki kelompok segelintir tadi.

Satu perusahaan, seperti Sinarmas menguasai lahan seluas sekitar 5 juta hektar, meskipun tak semua tambang batu bara. Bahkan, Dunia Minerba Indonesia dikuasai beberapa perusahaan saja. Sumber Daya Alam Indonesia sungguh ‘dijarah secara serakah’ oleh segelintir orang yang patut diduga berkolusi dengan pejabat.

Kedua, pemberian tambang batu bara dilakukan di tengah protes global terhadap energi fosil sebagai salah penyebab perubahan iklim dan pemanasan global. Din diminta untuk mewakili Islam meletakkan petisi kepada Sekjen PBB agar pada 2050 tidak ada lagi energi fosil. Jadi besar kemungkinan yang akan diberikan kepada NU dan Muhammadiyah adalah sisa-sisa dari kekayaan negara.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Din Syamsuddinkonsesi tambangMuhammadiyahNUpemanasan globalperubahan iklimPP 25 Tahun 2024

Editor

Next Post
Salah satu acara Pekan Rakyat Lingkungan Hidup 2024 di Banten, 4 Juni 2024. Foto Walhi.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, Ini Pesan Walhi untuk Pemerintah Terpilih

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media