“Tantangan bukan hanya volume lumpur yang ada, tetapi juga ancaman potensi lumpur baru yang masuk ke terowongan saat evakuasi berlangsung,” jelas dia.
Baca juga: Masyarakat Sipil Nilai IIGCE 2025 Merampas Ruang Hidup Lewat Proyek Panas Bumi
Untuk mempercepat evakuasi tanpa mengorbankan keselamatan, Wahyu menilai perlu pemanfaatan teknologi modern.
“Teknologi robot atau sistem kendali jarak jauh dapat membantu proses evakuasi sehingga risiko bagi tim penyelamat bisa diminimalisasi,” ujar dia.
Lebih dari itu, langkah jangka panjang perlu dilakukan perusahaan tambang untuk meminimalkan risiko kejadian serupa. Ia menekankan pentingnya pemetaan potensi bahaya runtuhan dan rembesan lumpur, pemasangan sensor peringatan dini, serta pembangunan jalur terowongan yang saling terhubung.
Baca juga: Seruan Aksi Iklim di 35 Kota di Indonesia dan 97 Negara Jelang KTT Iklim Brasil
Penyediaan sumber oksigen, makanan darurat, hingga peralatan evakuasi di titik-titik tertentu juga diperlukan.
“Latihan kesiapsiagaan bagi seluruh pekerja tambang mutlak dilakukan agar respon saat bencana lebih cepat dan tepat,” imbuh dia.
Wahyu juga menyampaikan harapan bagi keluarga pekerja, tim penyelamat, dan perusahaan. Keberhasilan evakuasi membutuhkan kerja sama erat seluruh pihak. Ia mengingatkan, kecepatan dalam upaya evakuasi dan penyelamatan perlu diimbangi dengan kehati-hatian agar tim penyelamat tetap aman.
“Kami semua berdoa semoga evakuasi ini segera berhasil dan selamat,” harap dia. [WLC02]
Sumber: PT Freeport, UGM







Discussion about this post