Tidak hanya sisi sains, PVLM juga mengangkat sisi humaniora melalui cerita rakyat. Mulai dari mitos Batarakala di Jawa dan Bali yang dipercaya “memakan” Bulan, hingga tradisi suku Batamariba di Afrika yang memandang gerhana sebagai momentum untuk berdamai dan menyelesaikan konflik antarmanusia.
Baca juga: Tahun 2026: Kemarau Datang Lebih Cepat, El Nino Pertengahan Tahun, Agustus Puncak Kemarau
Momentum ini sangat relevan karena bertepatan dengan bulan Ramadan dan berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Pengamatan ini ditutup dengan pesan toleransi, mengajak masyarakat untuk bersatu di bawah langit yang sama.
Bagi masyarakat yang melewatkan fenomena ini, Observatorium Bosscha mengingatkan bahwa GBT kali ini adalah satu-satunya yang dapat diamati di Indonesia pada tahun 2026. Fenomena serupa baru akan kembali menyapa Indonesia pada 31 Desember 2028.
ITB berupaya untuk menghadirkan sains yang inklusif bagi masyarakat. Untuk memantau fenomena langit lainnya, publik dapat mengakses Kalender Astronomi 2026 melalui situs resmi bosscha.itb.ac.id. [WLC02]
Sumber: ITB






Discussion about this post