Dari data pemantauan secara visual dan instrumental mengindikasikan bahwa Gunung Anak Krakatau masih berpotensi erupsi.
“Potensi bahaya dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini dapat berupa lontaran lava pijar, material piroklastik maupun aliran lava. Hujan abu lebat secara umum berpotensi di sekitar kawah di dalam radius 2 km dari kawah aktif. Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat menjangkau area yang lebih luas bergantung pada arah dan kecepatan angina,” kata Muhari.
Baca Juga: Erupsi Gunung Semeru Hari Ini Setinggi 1,5 Km dengan Jarak Luncur Mencapai 5 Km
Gunung Anak Krakatau sejak 25 Maret 2019 berstatus Waspada atau Level II. Terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 2 km dari kawah aktif.
Muhari menegaskan, agar masyarakat mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui PVMBG.
Baca Juga: Rehabilitasi Mangrove untuk Pengendalian Perubahan Iklim dan Konservasi Penyu
Dalam keterangannya, Muhari menegaskan bahwa visual letusan Gunung Anak Krakatau yang beredar di masyarakat merupakan peristiwa letusan Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018.
“Saat ini beredar video-video erupsi Gunung Anak Krakatau tahun 2018 yang seakan-akan merupakan kondisi gunungapi tersebut saat ini. BNPB mengimbau agar masyarakat tidak terpancing dan meneruskan berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas gunungapi Anak Krakatau, dan mengikuti arahan dari Instansi yang berwenang,” pungkas Muhari. [WLC01]
Discussion about this post