Wanaloka.com – Meskipun Pemerintah berambisi untuk membidik target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat lewat proyek energi baru terbarukan (EBT), tetapi pemerintah tidak bisa serta merta langsung meninggalkan energi berbasis fosil, seperti batu bara.
“Batu bara tetap diupayakan agar selaras dan tidak bertabrakan dengan arah kebijakan NZE, mengingat sumber daya batu bara Indonesia cukup melimpah,” kata Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid berdalih saat membuka Seminar Nasional Batubara yang digelar Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi bertema “Unlocking Hidden Gems in Coal Towards Net Zero Emission,” di Jakarta pada 12 Deseber 2023.
Saat ini, total sumber daya batu bara sebesar 98,5 miliar ton dan cadangan batu bara Indonesia sebesar 33,8 miliar ton.
Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Hujan Abu di Lima Desa
“Asumsi keliru yang berpendapat bahwa industri batu bara akan mengalami ‘sunset’, seiring pertumbuhan EBT sebagai tumpuan dalam pemanfaatan energi,” tukas Wafid.
Alasannya, untuk mencapai NZE dan hilirisasi mineral dunia, batu bara masih sangat dibutuhkan. Hal itu pula yang tengah digali PSDMBP, sesuai dengan salah satu tugasnya, yaitu menggali dan menyediakan data potensi batubara di Indonesia.
Selain untuk mendukung hilirisasi mineral, PSDMBP juga tengah menggali potensi lain batu bara dengan menginventarisasi batu bara metalurgi di Indonesia.
Baca Juga: Pascaerupsi Marapi, Bandara Internasional Minangkabau Dibuka Kembali
“Nantinya, batu bara memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” imbuh Wafid.
Sebelumnya, batu bara Indonesia dijual sebagai batu bara termal saja. Padahal untuk beberapa jenis batu bara tertentu memiliki karakteristik sebagai batu bara metalurgi yang berguna dalam industri baja dan smelter pengolahan mineral. Harga jualnya pun jauh lebih tinggi daripada batu bara termal.
Lewat seminar batu bara tersebut akan dikupas lebih dalam perkembangan terkini hasil dari ekstraksi material maju dan asam humat dari batu bara. Sekaligus evaluasi gambut sebagai penangkap karbon (carbon storage) sehingga Indonesia bisa berperan aktif dalam karbon trading dunia.
Baca Juga: BBSPGL Petakan Potensi Energi Laut Indonesia untuk Listrik Capai 60 GW
Seminar tersebut diselenggarakan untuk mengungkap hiddens gems, potensi, atau pemanfaatan lain dari batu bara yang mungkin belum banyak diketahui. Setelah seminar ini, seluruh pemangku kepentingan yang bergerak di bidang batu bara diharapkan dapat bersinergi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan batu bara serta membuka peluang dan percepatan pengungkapan potensi batubara untuk mendukung transisi energi dan NZE.
tengah menjadi primadona sebagai bahan baku energi yang ramah lingkungan dan rendah emisi, sejalan dengan ambisi pemerintah dalam , dengan menunggangi EBT sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional. Meski memiliki ambisi besar, pemerintah tidak bisa serta merta langsung meninggalkan energi berbasis fosil seperti batubara.
Eksploitasi Batu Bara Lewat Tambang Bawah Tanah
Salah satu upaya memaksimalkan pemanfaatan batu bara adalah melalui tambang bawah tanah. Peluang dan masa depan tambang bawah tanah di Indonesia diprediksi akan menunjukkan tren semakin meningkat. Salah satunya karena deposit (cebakan) berkadar tinggi pada atau dekat permukaan untuk ditambang semakin sedikit. Bertambahnya kedalaman deposit akan menyulitkan penambangan dengan sistem tambang terbuka.
Baca Juga: Perpres 78 Percepat Perampasan Tanah Rakyat untuk PSN, Walhi: Cabut!
“Stripping ratio terbatas. Di sisi lain, ditemukan teknologi baru dalam peralatan tambang bawah tanah,” kata Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Bidang Tata Kelola Minerba Kementerian ESDM, Irwandy ArifIrwandy di Jakarta pada 22 Desember 2023.
Tambang bawah tanah juga diklaim memiliki risiko kerusakan lebih kecil dibandingkan tambang permukaan.
“Ada pengetatan dan pembatasan masalah-masalah lingkungan, serta mobilitas peralatan mekanik berkurang apabila penambangan semakin dalam,” kata Irwandy beralasan.
Sementara tantangannya adalah biaya operasional lebih tinggi karena membutuhkan teknologi baru yang lebih canggih. Biaya operasional tambang bawah tanah sekitar dua kali lebih mahal dibandingkan tambang terbuka, karena ada tambahan biaya untuk ventilasi, penyanggaan, dan sebagainya. Sedangkan biaya modal tambang bawah tanah berkisar 3-4 kali lebih mahal dibandingkan tambang terbuka.
Baca Juga: FGD Peta Jalan Teknologi dan Inovasi dalam Industrialisasi Kebencanaan
“Tapi adanya disruption technologies, beberapa biaya bisa terpangkas terbuka,” klaim Irwandy.
Potensi tambang batubara bawah tanah di Indonesia diklaim masih sangat besar. Misalnya enam blok di Barito & Asam-Asam Basins yang mempunyai total potensi 530.711 MTon. Kemudian 13 blok di Kutai Kertanegara dan Tarakan Basins terdapat potensi 12,344.515 MTon. Serta 20 blok di South Sumatera Basins dengan potensi total 20,658.330 MTon batu bara.
Saat ini, selain PT. Sumber Daya Energi (SDE) yang baru saja meresmikan produksi pertama tambang bawah tanah, terdapat 15 perusahaan tambang batu bara bawah tanah lainnya di Indonesia. Seperti di CV Air Mata Emas dan PT Nusa Alam Lestari di Sumatera Barat, PT Merge Mining Industri Kalimantan Selatan, PT Kusuma Raya Utama di Bengkulu, PT Gerbang Daya Mandiri Kalimantan Timur, PT Sumber Daya Energi, PT Vipronity Power Energy, PT Sugico Pendragon Energi dan PT Indonesia Multi Energi di Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Aroma Dugaan Korupsi Sektor Tambang Gubernur Maluku Utara, Jatam: Usut!
Tambang Bawah Tanah PTFI
Salah satu kegiatan tambang bawah tanah yang telah beroperasi adalah PT Freeport Indonesia (PTFI) yang mengelola tambang terbuka Grasberg dan tambang bawah tanah. Tambang Grasberg berada di ketinggian 4280 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang juga merupakan area dengan curah hujan tertinggi di dunia, yaitu 200 inci per tahun.
Di tempat itu, penambangan menggunakan metode penambangan terbuka sehingga memungkinkan penggunaan alat berat berukuran besar seperti shovel dan truk besar (haul truck) untuk menambang material. Sejak tahun 2020, tambang terbuka Grasberg sudah tidak beroperasi lagi. Bukan berarti tak ada lagi operasional pertambangan di sana, melainkan melalui tambang bawah tanah.
Discussion about this post