Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jahe Dikembangkan Jadi Obat Terapi Kanker dengan Harga Terjangkau

Sabtu, 1 Januari 2022
A A
Ilustrasi foto Jmexclusives/pixabay.com.

Ilustrasi foto Jmexclusives/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Biaya kemoterapi yang harus ditanggung pasien kanker di Indonesia masih mahal. Adik Dosen Vokasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Mohamad Endy Yulianto misalnya, harus merogoh kantong Rp30 juta-Rp60 juta dalam sebulan.

“Padahal itu sudah diskon,” kata Endy sebagaimana dilansir dari laman Undip yang dipublikasi pada 30 Desember 2021.

Belum lagi, 90 persen bahan baku untuk proses penanganan pasien kanker harus impor. Bisa dibayangkan, jika secara finansial tak mencukupi, maka biaya pengobatan itu sangat memberatkan masyarakat.

Atas pertimbangan itu, Endy bersama timnya tengah mengembangkan penelitian yang berfokus pada penanganan penyakit kanker dengan tema “Pengembangan Produk Nano Shogaol Jahe sebagai Antikanker melalui Teknik Fotoekstraksi-UV dengan Air Subkritis”. Mereka mencoba memanfaatkan tanaman jahe sebagai hasil alam di Indonesia.

Baca Juga: Akhir Tahun 2021, Aceh Timur Dilanda Banjir, 4.841 Warga Mengungsi

“Kami melakukan pengembangan shogaol jahe melalui senyawa biokatif menjadi obat herbal untuk kemoterapi bagi penderita kanker,” kata peraih penghargaan Dosen Pemilik Paten Terbanyak Granted 2021 di Undip yang terdiri dari 3 hak kekayaan intelektualnya berstatus paten biasa, 18 paten sederhana, dan 1 hak cipta.

Produk shogaol dan 6 gingerol sangat dibutuhkan dalam proses kemoterapi. Namun harga produk-produk derivatif jahe itu sangat mahal di pasaran. Untuk  shogaol Rp10.640.000 per 10 miligram, sedangkan gingerol Rp8.806.500 per 10 miligram.

Menurut Endy, harga produk nano shogaol jahe yang mahal bisa meningkatkan kemandirian bangsa dalam pemenuhan obat dan bahan baku obat yang berdaya saing tinggi. Produksi ekstrak senyawa aktif jahe mampu meningkatkan harga produk hingga 80,8 kali lebih tinggi dibandingkan dijual dalam bentuk rimpang jahe.

Baca Juga: Kisah Mark Zuckerberg hingga Raja Belanda Blusukkan ke Kampoeng Cyber

Sementara dalam proses produksi yang perlu dilakukan adalah mengembangkan produk nano shogaol sebagai antikanker dengan pengembangan high efficient system fotoekstraksi-uv menggunakan pelarut air subkritis. Mengingat shogaol melalui bioaktif pada jahe mampu menggempur kanker sehingga dapat membantu terapi penyembuhan bagi penderita kanker.

Diubah jadi nano

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: jahekankerkemoterapiMohamad Endy YuliantoUndip

Editor

Next Post
Tumpukan kayu di salah satu rumah warga terdampak banjir bandang di Kecamatan Batang Lubu Sutam, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, terjadi pada Jumat, 31 Desember 2021. Foto Dok BNPB.

Kabupaten Palas Daerah Pertama Tahun 2022 Berstatus Darurat Bencana

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media