“Intinya adalah, seluruh areal ekosistem harus dijaga,” ujar Dedi.
Ia juga mengingatkan peristiwa banjir beberapa waktu lalu yang terjadi merupakan pertanda dari Tuhan yang mengingatkan manusia untuk bertobat.
“Bahasa saya adalah bertobat ekologi. Artinya, tobat hari ini kita sadarkan untuk kembali lagi berani melakukan tindakan-tindakan yang besar untuk membuka pori-pori tanah dari berbagai bangunan, beton, dan ini bagian dari rangkaian kebijakan yang akan terus dilakukan,” jelas dia.
Selain penanaman pohon, kegiatan ini mencakup edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya penghijauan. Kementerian Kehutanan berharap inisiatif ini dapat menginspirasi lebih banyak individu dan organisasi untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam serta menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat.
“Jadi, kami terus akan bekerja untuk menghijaukan DAS, sekaligus memastikan pohon yang kami tanam lebih banyak dari yang ditebang,” ucap Antoni.
Pelaksanaan kegiatan penanaman juga selaras dengan Asta Cita Bapak Presiden dan Wakil Presiden, terutama dalam aspek kelestarian lingkungan, ketahanan bencana, dan kesejahteraan sosial. Pembangunan dan konservasi harus berjalan seimbang agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
Menjaga alam bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga bagian dari kesejahteraan manusia dan nilai spiritual dalam berbagai ajaran agama. Konsep ekoteologi menekankan kesadaran kolektif untuk melindungi lingkungan demi keberlanjutan hidup. Pelestarian hutan dan sumber daya alam bukan sekadar tugas negara, tetapi juga amanah moral dan spiritual bagi setiap individu. [WLC02]
Sumber: PPID Kementerian Kehutanan
Discussion about this post