Salah satu fokus utama tahun ini adalah revitalisasi fisik Auditorium Museum Geologi. Ruang auditorium akan dipugar untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya sehingga bisa berfungsi untuk lokasi serbaguna dari seminar internasional dan pemutaran film dokumenter, hingga kegiatan komunitas berskala lebih besar.
“Museum itu harus hidup, tidak boleh kaku. Tahun 2026, kami perbaiki auditoriumnya supaya lebih megah dan nyaman. Kami ingin orang datang ke museum bukan cuma lihat batu, tapi bisa diskusi, nonton film, dan bikin acara kreatif di sana,” ujar Isnu.
Baca juga: Libur Nataru di Yogyakarta, Potensi Hujan Lebat, Kemacetan dan Dampak Sosial Warga Lokal
Inovasi program menjadi kunci transformasi. Program unggulan bertajuk “Day Night at The Museum” akan dijalankan rutin menjadi kegiatan dasar. Konsep ini memecah batas jam kunjungan konvensional dan mengajak pengunjung merasakan pengalaman museum pada malam hari, yaitu belajar sejarah bumi dalam suasana yang berbeda dan lebih seru.
Selain wisata malam, digitalisasi layanan terus dipercepat. Museum menyiapkan Virtual Tour dan pemanduan langsung (live guiding) interaktif untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Program rutin seperti “Merdolu Sekt Museum Geologi” dan sesi “Collection Talk” juga diprogramkan untuk menghadirkan pembahasan koleksi secara santai namun mendalam.
Museum Geologi memosisikan diri sebagai laboratorium raksasa yang mendukung kurikulum nasional, menyediakan materi pembelajaran yang bisa diakses langsung maupun virtual oleh siswa di seluruh Indonesia.
“Museum Geologi ke depan harus jadi ikon pariwisata edukasi. Fasilitas kita perbaiki, program kita bikin asik. Jadi edukasi jalan, hiburan dapat, dan sejarah tetap lestari,” imbuh Isnu.
Baca juga: Jangan Asal Membangun Hunian Tetap dan Sementara di Lokasi Bekas Banjir Bandang
Site museum di Nganjuk dan Subang
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merilis peta jalan (roadmap) strategis pengembangan museum untuk periode 2025-2026. Langkah ini bertujuan mendesentralisasi akses pengetahuan kebumian agar masyarakat di daerah lain dapat menikmati fasilitas edukasi setara.
Rencana besar dimulai pada 2025 dengan fokus utama pada Pengembangan Site Museum Nganjuk, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena kaya potensi temuan fosil dan situs geologi di Jawa Timur yang selama ini belum memiliki wadah pameran dan konservasi yang representatif. Kehadiran site museum di Nganjuk, koleksi dan hasil ekskavasi diharapkan dapat dikelola dan dipamerkan lebih dekat kepada sumbernya.
“Kami tidak ingin kekayaan sejarah bumi kita hanya tertumpuk di gudang atau harus dibawa jauh ke Bandung baru bisa dilihat orang. Edukasi harus mendekat ke masyarakat,” kata Isnu.
Selain di Nganjuk, pengembangan site museum juga dilakukan Subang, Jawa Barat. Pembangunan ini dipandang penting untuk melengkapi narasi geologi Pulau Jawa, terutama terkait formasi geologi dan potensi fosil vertebrata purba di wilayah Subang.
Baca juga: Aktivis Greenpeace Dapat Kiriman Bangkai Ayam, Diduga Kritik Penanganan Bencana Sumatra
Menurut Isnu, proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan juga upaya membangun pusat riset dan peradaban lokal.
“Generasi muda di daerah harus bangga dengan kekayaan tanah kelahiran mereka,” tegas dia.
Kehadiran site museum dan situs satelit ini diharapkan memberi efek berganda bagi perekonomian daerah. Selain menjadi destinasi wisata edukasi, fasilitas baru akan membuka lapangan kerja dan mendorong sektor jasa di sekitar lokasi. Sejalan dengan visi pemerintah menjadikan sektor kebumian sebagai penggerak ekonomi kerakyatan lewat konsep geopark dan museum.
Di sisi lain, pengembangan site museum di daerah berjalan beriringan dengan pembenahan internal di Museum Geologi Bandung. Revitalisasi ruang pamer sumber daya geologi dan pengembangan sistem manajemen koleksi berbasis daring tetap menjadi prioritas. Sinergi antara museum pusat dan site museum di daerah diharapkan membentuk jaringan informasi geologi yang terintegrasi secara nasional. [WLC02]
Sumber: Kementerian ESDM







Discussion about this post