Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kabar Gembira, Laksmi Melahirkan Lagi dan Astuti Direhabilitasi

Dua orangutan Kalimantan memberi kabar gembira. Lantaran populasinya bertambah.

Senin, 30 Januari 2023
A A
Orangutan Laksmi dan bayinya yang bergelayut di dada kanan induknya. Foto ppid.menlhk.go.id.

Orangutan Laksmi dan bayinya yang bergelayut di dada kanan induknya. Foto ppid.menlhk.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Risnawati Utami: Jangan Menganggap Difabel Berbeda, Anggaplah Setara

Translokasi Astuti membutuhkan waktu kurang lebih 31 jam. Satwa liar ini diberangkatkan dari BKSDA Sulawesi Utara menuju BKSDA Kalimantan Timur melalui perjalanan darat dan penerbangan.

Perjalanan darat dimulai dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki, Minahasa Utara ke Pusat Rehabilitasi Orangutan (Centre for Orangutan Protection/COP), Berau. Rute penerbangan dari Bandara Sam Ratulangi, Manado ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar dilanjutkan penerbangan ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan. Kemudian dilanjutkan kembali dengan perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat menuju Berau.

Orangutan usia 2 tahun, Astuti direhabilitasi usai selamat dari penyelundupan. Foto ppid.menlhk.go.id.
Orangutan usia 2 tahun, Astuti direhabilitasi usai selamat dari penyelundupan. Foto ppid.menlhk.go.id.

Astuti disita bersama dengan 58 individu satwa lain, seperti beberapa jenis owa kalimantan, lutung jawa, biawak, dan kura-kura. Saat ini, proses hukum pelaku penyelundupan telah inkrah dengan vonis penjara dan denda.

Baca Juga: Menewaskan 5 Orang Ini Data Lengkap Banjir dan Longsor di Kota Manado

Pasca penyitaan, Astuti dititipkan di kandang transit Kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Gorontalo, BKSDA Sulawesi Utara. Kemudian dititipkan di PPS Tasikoki untuk mendapatkan perawatan secara intensif.

Selama di PPS Tasikoki, Astuti menerima perawatan harian dari animal keeper dan penanganan medis oleh dokter hewan. Perawatan harian dan pendampingan aktivitas harian berupa pengenalan habitat jelajah di hutan serta pemberian enrichment di kandang playground. Sedangkan penanganan medis yang pernah dijalani Astuti selama di sana berupa pemeriksaan fisik, laboratorium, dan rontgen.

“Hingga Januari 2023, Astuti dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit apapun,” kata Kepala BKSDA Sulawesi Utara, Askhari DG Masiki, 25 Januari 202.

Baca Juga: Ulos, Lambang Ikatan Kasih Sayang Masyarakat Batak

Setelah diberikan perawatan, Astuti dipulangkan ke COP untuk rehabilitasi. Puncak dari tahapan rehabilitasi ini adalah pelepasliaran orangutan di habitat alami.

Berdasarkan Surat Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik, Ditjen KSDAE Nomor: S.886/KKHSG/AJ/KSA.2/12/2022 tanggal 5 Desember 2022 Perihal Tindak Lanjut Putusan Perkara Penyelundupan Satwa Liar di Pengadilan Negeri Tilamuta Provinsi Gorontalo dan Rekomendasi Translokasi, Astuti akan dititiprawatkan Balai KSDA Kalimantan Timur ke Pusat Rehabilitasi Orangutan yang dikelola bersama COP di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Baca Juga: Tradisi Lo Hei, Angkat Sumpit Isi Yu Sheng Setinggi-tingginya Saat Imlek

Proses karantina akan dilakukan bagi orangutan bersangkutan. Setelah semua hasil baik dan sehat kemudian akan menjalani serangkaian program rehabilitasi, termasuk program sekolah hutan bersama orangutan yang menjalani rehabilitasi.

“Setelah semua tahapan rehabilitasi dilalui, Astuti akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya,” jelas Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BKSDA Kalimantan TimurBKSDA Sulawesi UtaraCentre for Orangutan ProtectionKawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit RayaKLHKorangutanPongo pygmaeusPPS Tasikoki

Editor

Next Post
Ilustrasi kekeringan. Foto bernswaelz/pixabay.com.

El Nino 2023, Ini Dampak dan Mitigasinya

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media