Kasus kematian anak gajah di TN Tesso Nilo ini dapat berdampak krusial terhadap keberlangsungan populasi lokal. Hilangnya satu individu muda dapat mengurangi potensi regenerasi kelompok, melemahkan struktur sosial populasi gajah, dan menekan populasi yang sudah terancam kritis akibat jerat dan hilangnya habitat.
Kematian tersebut akan berdampak utama terhadap populasi lokal, misalnya gangguan regenerasi populasi gajah. Sebab anak gajah adalah masa depan kelompok populasi gajah. Dengan masa kehamilan panjang dan interval kelahiran 4-5 tahun, kematian anak gajah membuat pertumbuhan populasi sangat lambat atau mustahil.
Kematian salah satu anak gajah juga menyebabkan dampak psikologis dan sosial pada kelompok gajah. Sebab, gajah merupakan satwa liar yang memiliki sifat sosial dengan ikatan kekeluargaan kuat.
“Kematian anak dapat menyebabkan trauma pada induk dan kelompok, mengganggu struktur sosial,” ungkap dia.
Baca juga: Desain Kota Pesisir Berbasis Iklim Berpotensi Turunkan Suhu hingga 2 Derajat Celsius
Selain itu, kematian akibat jerat atau konflik manusia-gajah di habitat dapat menunjukkan kerentanan yang tinggi terhadap perburuan dan alih fungsi lahan. Langkah-langkah medis yang harus dilakukan apabila menemukan anak gajah yang terjerat adalah segera melaporkan segera kepada petugas BBKSDA atau Polisi Hutan atau dokter hewan terdekat. Dengan catatan tetap hati-hati dengan satwa liar lain.
Penanganan selanjutnya dengan melihat kondisi fisiknya. Apabila diperlukan dapat dilakukan pembiusan (sedasi) oleh tim medis dokter hewan untuk melepaskan jerat, membersihkan luka infeksi, dan memberikan antibiotik/anti-inflamasi. Tindakan medis darurat hanya dapat dilakukan oleh dokter hewan mulai dari imobilisasi atau pemberian sedasi pembiusan dengan melihat posisi jerat untuk melepaskan jerat dengan aman.
Pelepasan jerat dapat dilakukan dengan pemotongan kawat atau tali jerat dengan menggunakan tang pemotong baja. Setelah itu dilakukan tindakan pembersihan luka secara intensif dari kotoran dan jaringan mati. Penanganan infeksi dapat dilakukan pemberian antibiotik dan anti-inflamasi untuk mencegah septikemia.
Untuk perawatan lokal dapat menggunakan antiseptik, salep khusus, atau bahan alami seperti madu untuk membantu mempercepat penyembuhan jaringan. Sementara, untuk pasca perawatan dapat dilakukan evakuasi atau release bila luka dianggap telah sembuh dengan melepasliarkan anak gajah tersebut kembali ke kelompoknya.
Baca juga: Tahun 2026: Kemarau Datang Lebih Cepat, El Nino Pertengahan Tahun, Agustus Puncak Kemarau
Jika lukanya cukup parah, diperlukan perawatan intensif dengan mengevakuasi anak gajah tersebut ke Pusat Latihan Gajah. Pemantauan intensif perlu dilakukan untuk memastikan anak gajah dapat beradaptasi dan luka sembuh total.
Peta jasa lingkungan hidup
Sementara Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono menyatakan kesiapan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendukung upaya reforestasi kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melalui penyediaan peta Jasa Lingkungan Hidup (JLH).
Melalui peta JLH, KLH/BPLH akan membantu memprioritaskan wilayah dengan nilai jasa lingkungan tinggi untuk rehabilitasi dan restorasi.
“Dalam pembangunan ekosistem gajah atau pembuatan saltlick, kami dapat menyediakan data peta JLH pengatur air,” jelas Diaz.
Sebagaimana diketahui, TNTN tengah mengalami degradasi yang cukup serius. Lebih dari 90 persen kawasan dari 81 ribu hektare diperkirakan telah mengalami kerusakan. KLH/BPLH mendukung penghijauan kembali kawasan tersebut.
“Kami mendukung program reforestasi ini,” kata Diaz. [WLC02]
Sumber: Kementerian Kehutanan, KLH/BPLH, UGM






Discussion about this post