Melihat ketersediaan buah manggis yang melimpah saat panen raya, Sedarnawati telah mengembangkan berbagai produk turunan. Sebut saja minuman kesehatan, enkapsulat nanopartikel ekstrak kulit manggis, serta fruit leather berbasis puree daging buah yang dipadukan dengan ekstrak kulitnya.
“Inovasi ini tidak hanya memperpanjang umur simpan buah, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonominya,” ujar sosok peneliti yang kini telah meramu hingga 17 macam rempah Indonesia untuk menghasilkan minuman kesehatan.
Proses produksi harus memperhatikan varietas, musim panen, teknik pascapanen, dan analisis laboratorium.
Baca juga: Jelang Seabad Museum Geologi Bandung, Bangun Peta Jalan Akses Kebumian untuk Masyarakat
“Ekstrak etanol 70 persen umumnya aman, tetapi tetap perlu dikaji dosis pemakaian, dilakukan uji toksisitas, stabilitas, dan kepatuhan terhadap GMP (good manufacturing practices),” jelas ida.
Untuk meningkatkan efektivitas senyawa bioaktif, Sedarnawati menerapkan teknologi nanoenkapsulasi yang menjaga kestabilan senyawa xanthon dari kerusakan akibat panas atau oksidasi, sehingga lebih mudah diserap tubuh.
Meski menjanjikan, pengembangan produk dari kulit manggis masih menghadapi tantangan, seperti pasokan bahan baku berkelanjutan, efisiensi teknologi, pembiayaan, dan regulasi.
Namun dengan dukungan riset terapan dan kemitraan akademik–industri, potensi kulit manggis dapat dioptimalkan untuk mendukung ketahanan ekonomi dan kesehatan nasional. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post