Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Masyarakat Sipil: Perusahaan Karet di Jambi Diduga Lakukan Greenwashing

Greenwashing bisa diartikan pencitraan perusahaan untuk tampak ramah lingkungan, tetapi sebenarnya mengeksploitasi lingkungan. Konflik lahan di Jambi diduga dilatarbelakangi praktik itu.

Kamis, 27 Oktober 2022
A A
Ilustrasi pohon yang ditebang. Foto Carick/pixabay.com

Ilustrasi pohon yang ditebang. Foto Carick/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Di Provinsi Jambi terdapat 18 izin Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan total luasan 686.662,42 hektare, 14 izin berstatus aktif, dan 4 lainnya tidak aktif. Namun izin-izin konsesi tersebut menyimpan persoalan terkait konflik penguasaan lahan, kerusakan ekosistem, dan sumber daya alam (SDA), dan pola kemitraan yang tidak adil bagi masyarakat. Salah satunya diduga dilakukan PT. Lestari Asri Jaya (LAJ). Demikian pernyataan bersama yang diterima Wanaloka.com, 25 Oktober 2022 dari lembaga-lembaga peduli lingkungan yang mengatasnamakan Organisasi Masyarakat Sipil.

Apakah PT LAJ itu? Ini adalah perusahaan karet alam berkelanjutan. PT LAJ sendiri merupakan anak perusahaan PT Royal Lestari Utama (RLU) yang dimiliki Michelin Group, sebuah perusahaan ban dunia.

Kepemilikan Michelin atas PT RLU berawal sejak perusahaan ban raksasa itu mengadopsi kebijakan NDPE pada 2015. Kemudian berinvestasi dan menggandeng Barito Pacific Group untuk membangun perkebunan dan pengolahan karet alam ‘berkelanjutan’ PT. Royal Lestari Utama (RLU) dengan kepemilikan 51 persen oleh Barito Pacific Group dan 49 persen oleh Michelin. Pada Juni 2022, Michelin membeli sisa saham yang dimiliki oleh Barito Pacific Group, sehingga Michelin adalah pemilik utama RLU 1 .

Baca Juga: Banjir di Kotawaringin Barat Ribuan Warga Mengungsi, Masa Tanggap Darurat Diperpanjang

Lantas seperti apakah konflik penguasaan lahan oleh PT LAJ?

PT. LAJ memiliki izin konsesi seluas 61.495 hektare di Jambi. Atas nama izin konsesi, pihak perusahaan dinilai melakukan penggusuran kebun-kebun masyarakat Desa Pemayungan, Jambi sehingga tanaman-tanaman rusak. Perusahaan juga diduga melakukan intimidasi dan kriminalisasi dengan melaporkan masyarakat kepada polisi. Dan polisi pun mengirimkan surat pemanggilan kepada masyarakat dengan alasan wawancara.

Tindakan-tindakan itu dilakukan agar masyarakat menyerahkan lahan yang dikelola. Padahal aktivitas pertanian masyarakat di sana telah ada jauh sebelum perusahaan hadir. Konflik dipicu karena ketimpangan penguasaan ruang kelola, tertutupnya data dan dokumen terkait pengelolaan sumber daya alam (SDA), pelanggaran prosedur dan lemahnya penegakan hukum, serta tidak adanya pelibatan masyarakat.

Baca Juga: Beruntun, Enam Warga Tewas Tertimbun Longsor

Tindakan polisi dan perusahaan dinilai sebuah pelanggaran terhadap jaminan atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang dijamin Pasal 28 G ayat (1) UUD 1945. Ada dugaan pelanggaran hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Pemayungan.

Upaya pembukaan lahan secara masif, berskala besar, dan kebijakan perusahaan yang membuat Wildlife Conservation Area (WCA) atau Wilayah Cinta Alam di sekitar kebun masyarakat, juga menimbulkan konflik antara petani dan satwa liar gajah sumatera. Tiap pagi, masyarakat harus berhadapan dengan penggusuran oleh perusahaan. Malam hari, masyarakat harus berjibaku menghalau masuknya kelompok gajah ke kebun mereka.
Kondisi ini menunjukkan ketimpangan tata kelola pemerintah dan buruknya tata kelola perusahaan di lapangan yang tidak menghormati hak-hak masyarakat.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: greenwashingHutan Tanaman Industrikerusakan ekosistemkonflik penguasaan lahanOrganisasi Masyarakat Sipilperusahaan karetWalhiWalhi Jambi

Editor

Next Post
Ilustrasi keselamatan pendakian. Foto Pexels/pixabay.com

Ini Pesan untuk Tim Relawan Penyelamatan Pendaki Gunung

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media