Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengkhawatirkan, Kapasitas TPA Sampah Nasional Hanya Bertahan Hingga 2028

Hingga 2045, Indonesia berpotensi menghasilkan 82 juta ton sampah per tahun. Tidak semuanya bisa dikelola dengan baik.

Selasa, 25 Februari 2025
A A
Gunungan sampah di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Foto UPST DLH DKI Jakarta.

Gunungan sampah di TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Foto UPST DLH DKI Jakarta.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Daya tampung tempat pengolahan akhir (TPA) nasional secara keseluruhan tengah mengalami kelebihan kapasitas. Hingga 2045, Indonesia berpotensi menghasilkan 82 juta ton sampah per tahun. Tidak semuanya bisa dikelola dengan baik sehingga menjadi permasalahan yang cukup mengkhawatirkan. Apalagi persoalan pengelolaan sampah belum menjadi perhatian di tiap-tiap pemerintah daerah.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Priyanto Rohmattulah menegaskan, bahwa perlu intervensi progresif dari pemerintah. Sebab kapasitas penampungan TPA hanya bisa bertahan sampai empat tahun ke depan atau 2028.

“Sangat disayangkan anggaran pengelolaan sampah di banyak pemda kurang dari 1 persen, termasuk pemda Yogjakarta. Anggaran pengelolaan sampah seperti di Yogyakarta ini tidak pernah naik,” ujar  di Balairung UGM Priyanto, Jum’at, 22 Februari 2025 saat menjadi pembicara Simposium Sampah: Dari yang Dibuang untuk Membangun Manusia yang Beradab.

Baca juga: Penentuan Hilal dengan Hisab dan Rukyat, Awal Ramadan Diprediksi 1 atau 2 Maret

Ia juga menyayangkan karena sebagian besar pemda di Indonesia belum memiliki Rencana Induk Pengelolaan Sampah (RIPS). Dari 514 pemerintah kabupaten/kota di Indonesia, baru sekitar 200 pemerintah kabupaten/kota yang sudah menyusun RIPS. Soal RIPS ini, ada yang belum, ada yang sedang, ada yang sudah kadaluarsa.

Sedangkan dalam aspek teknis, Sebagian besar pengelolaan sampah hanya dilakukan dengan mengumpulkan, angkut, dan buang. Hanya beberapa usaha dari masyarakat yang melakukan pemilahan di tingkat rumah tangga.

“Mestinya kan plastik dipisah, yang organik dipisah, yang anorganik juga dipisah. Tetapi yang sering ditemui dikumpulin, jadiin satu terus diangkut lagi dan terus dibuang. Ini yang menjadikan TPA kita open dumping. Itu yang menjadi penuh,” terang dia.

Baca juga: Komisi XIII Ingatkan Bahaya Pengelolaan Limbah FABA di Lapas Nusakambangan

Sedangkan dari aspek kelembagaan, dalam pengelolaan sampah di tiap-tiap daerah yang sering terjadi regulator merangkap operator. Akibatnya timbul permasalahan karena tidak ada transparansi. Artinya, pengelola sampah itu sesungguhnya bukan dinas, tetapi masih banyak juga yang merangkap.

“Ini salah satu yang mungkin nggak pernah transparan. Seperti di Yogyakarta, saya nggak tahu berapa retribusi sampah, mestinya bisa dihitung. Kalau retribusi itu dikelola dengan baik, bisa jadi ceritanya lain,” kata dia.

Priyanto menuturkan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas saat ini berpegang pada konsep Triple Planetary Crisis. Konsep yang menjadi pedoman Kementerian Rencana Pembangunan Nasional dalam memformulasikan seluruh kebijakannya terkait isu lingkungan hidup. Ada tiga isu, meliputi perubahan iklim; polusi dan kerusakan lingkungan; serta hilangnya kanekaragaman hayati yang perlu mendapat perhatian.

Baca juga: Menuju Kampus Mandiri Sampah, UGM Kenalkan Laboratorium Daur Ulang Sampah

“Kami prihatin hampir satu juta spesies diperkirakan segera punah. Akibat siapa? Akibat kita. Perilaku kita semua,” imbuh dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: ekonomi sirkularSatgas Sampah UGMTPA LeuwigajahTPA nasional

Editor

Next Post
Pusat gempa dangkal 6,1 magnitudi mengguncang Kota Tutuyan, Boltim, Sulawesi Uatara pada Rabu, 26 Februari 2025. Foto BMKG.

Gempa Dangkal 6,1 Magnitudo Guncang Boltim Sulawesi Utara

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media