Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Menolak Tenggelam, Alasan Empat Warga Indonesia Menggugat Holcim

Emisi C02 yang diproduksi industri semen Holcim telah berkontribusi pada pemanasan global. Dampaknya, banjir rob rutin berlangsung di Pulau Pari sehingga terancam tenggelam.

Sabtu, 4 Februari 2023
A A
Pulau Pari di Kepulauan Seribu,Jakarta yang terancam tenggelam. Foto callforclimatejustice.org.

Pulau Pari di Kepulauan Seribu,Jakarta yang terancam tenggelam. Foto callforclimatejustice.org.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Gugatan iklim terhadap perusahaan semen terbesar dunia asal Swiss, Holcim diluncurkan secara resmi pada 1 Februari 2023 oleh empat nelayan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. Mereka mendapat dukungan dari European Center for Constitutional and Human Rights (ECCHR), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan HEKS melalui kampanye “Call for Climate Justice”.

Seruan keadilan iklim dan tagar #SavePulauPari bergemuruh mengajak masyarakat di negara-negara utara (global north) melihat kembali dampak krisis iklim di negara-negara selatan (global south) yang disebabkan akumulasi emisi yang diproduksi oleh industri skala besar, khususnya yang berbasis di Eropa. Banjir rob adalah salah satu bentuk krisis iklim akibat akumulasi emisi dari Holcim.

Apa Dampak Bagi Penggugat?
Salah satu perempuan nelayan Pulau Pari, Asmania menyatakan keluarganya telah terdampak banjir rob besar yang terjadi pada 2021. Banjir membawa polusi dan minyak dari laut serta membanjiri peternakan ikan.

Baca Juga: Analisis Gempa Dangkal di Pulau Indonesia hingga Jumat 3 Februari 2023

“Kami telah kehilangan 300 ikan dari 500 ikan yang kami budidayakan,” kata Aas, panggilan akrabnya.

Saat itu, berat satu ikan sekitar satu kilogram. Nelayan biasanya menjualnya seharga Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram.

Sejak dihempas banjiir rob, Aas tak bisa menangkap ikan selama beberapa hari, baik saat banjir November maupun Desember 2021. Sebab mereka harus bahu-membahu membersihkan desa akibat rob. Akibatnya, keluarga kehilangan penghasilan sekitar Rp1.750.000.

Baca Juga: Empat Warga Indonesia Ajukan Gugatan Iklim terhadap Perusahaan Semen Swiss

“Di mana saya, keluarga saya, dan seluruh masyarakat Pulau Pari akan tinggal jika laut terus naik? Saya takut Pulau Pari akan tenggelam,” keluh Aas.

Nelayan lain sebagai penggugat, Arif Pujianto menambahkan, rumahnya rusak permanen akibat banjir rob yang telah melanda malam hari. Ia harus memperbaiki rumahnya sendiri dan mengeluarkan uang hingga Rp3 juta.

Dan tiap kali air laut naik, warga Pulau Pari tak mempunyai air bersih karena air sumur telah terintrusi air laut. Air itu pun tak lagi bisa digunakan untuk mencuci, memasak, minum. Mereka pun terpaksa membeli air bersih dari penyulingan untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: KLHK Siap Tuntaskan Masalah Sampah 2025 Lewat Hari Peduli Sampah 2023

Dampak lain kenaikan air laut adalah mematikan berbagai tanaman pangan yang telah tumbuh, seperti pisang, pepaya, dan kelor.

“Semuanya mati sejak banjir November dan Desember 2021. Saya belum bisa menanam kembali kebun itu,″ tambah Arif.

Kemudian penggugat lain, Mustaghfirin juga tidak bisa pergi memancing untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama banjir rob 2021. Lantaran ia harus membersihkan pantai, rumah, dan memperbaiki perahu. Ia juga kehilangan sekitar seperempat penghasilan bulanannya akibat rob.

Baca Juga: Ini Isi Kebijakan Satu Peta yang Jadi Tanggung Jawab Badan Geologi

“Perahu saya terdampar ke pinggir pantai dan menabrak bronjong. Karena rusak, saya harus kehilangan uang yang cukup banyak,” kata Mustaghfirin.

Begitu pula penggugat lain, Edi Mulyono yang telah kehilangan pendapatan dari usaha homestay dan pariwisata. Banyak wisatawan telah membatalkan perjalanannya karena khawatir akan terjadi banjir rob.

“Saya rugi Rp5,5 juta akibat banjir rob pada November dan Desember 2021,” ucap Edi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: banjir robCall for Climate Justiceemisi CO2gugatan iklimHolcimKrisis Iklimnelayan Pulau Paripemanasan globalWalhi Nasional

Editor

Next Post
Peta Seismisitas Pulau Jawa 2009-Agustus 2020. Foto @DaryonoBMKG/Twitter

Badan Geologi Terbitkan 14 Peta Kawasan Rawan Bencana pada 2022

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media