Wanaloka.com – Warga Cirebon dan Kuningan, Jawa Barat, dikejutkan bunyi dentuman keras, Ahad, 5 Oktober 2025 sekitar pukul 18.30 WIB. Kejadian itu sempat dikaitkan dengan jatuhnya meteor dan kobaran api. Namun info tersebut keliru karena meteor tidak membawa api.
Informasi yang lebih akurat mengaitkannya dengan meteor yang melintas. Sebelumnya, beberapa video yang dikirimkan warga menunjukkan ada meteor yang melintas di atas wilayah Cirebon dan sekitarnya. Ada CCTV yang merekam meteor melintas pada pukul 18.35. Juga ada video yang menunjukkan meteor melintas di atas wilayah perbatasan Brebes-Cirebon.
Kejadian tersebut memperlihatkan bahwa ruang angkasa tidak sekosong dan setenang yang dibayangkan. Ia menyimpan potensi bahaya yang dapat mengancam kehidupan di Bumi.
Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof. Husin Alatas mengingatkan, bahwa Bumi sebagai rumah bagi seluruh kehidupan, tidak sepenuhnya aman dari ancaman luar angkasa. Fenomena jatuhnya meteor di Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini menjadi pengingat nyata bahwa bahaya dari luar angkasa bisa terjadi kapan saja.
Baca juga: Mindful Consumption Mencegah Perilaku Menyisakan Makanan Menjadi Sampah
“Ruang angkasa dipenuhi objek yang bergerak dalam kecepatan tinggi. Jika salah satu di antaranya keluar dari orbit stabilnya, kemudian tertarik gravitasi Bumi, maka potensi tumbukan menjadi nyata,” ujar Husin.
Ia menduga, meteor di Cirebon kemungkinan berasal dari asteroid di antara orbit Jupiter dan Mars yang kemudian masuk atmosfer akibat gaya tarik Bumi.
Ia mengingatkan sejumlah dampak bagi Bumi, ketika benda-benda ruang angkasa masuk ke Bumi. Salah satu ancaman terbesar, datang dari tumbukan asteroid dan komet. Sejarah mencatat peristiwa 66 juta tahun lalu di Semenanjung Yucatan, Meksiko, ketika hantaman asteroid raksasa menyebabkan kepunahan dinosaurus.
Kini, berbagai lembaga antariksa dunia, seperti NASA mengembangkan sistem pertahanan planet untuk mencegah peristiwa serupa.
Baca juga: Serangan Hama Sebabkan Potensi Produk Pertanian Hilang Sebelum Dikonsumsi Capai 50 Persen
“Misi Double Asteroid Redirection Test (DART) yang berhasil mengubah orbit asteroid pada 2022 menjadi tonggak utama dalam upaya perlindungan Bumi,” jelas dia.
Selain ancaman fisik, aktivitas Matahari juga menimbulkan risiko serius. Letupan besar (solar flare) dapat mengirimkan partikel bermuatan tinggi yang melumpuhkan jaringan listrik dan sistem komunikasi di Bumi.
“Medan magnet Bumi memang melindungi kita, tapi kekuatannya terbatas. Angin Matahari ekstrem bisa menembus dan memicu kerusakan sistem teknologi modern,” kata Husin.
Ia mencontohkan peristiwa lain tahun 1989 di Quebec, Kanada, yang menyebabkan pemadaman listrik massal selama berjam-jam. Ancaman lain berasal dari radiasi kosmik berenergi tinggi, yang bersumber dari ledakan bintang supernova atau fenomena galaksi jauh. Bintang Betelgeuse di konstelasi Orion, menurut sebagian astronom, telah menunjukkan tanda-tanda akan meledak.
Baca juga: Catatan Kritis Walhi Satu Tahun Kebijakan Lingkungan Prabowo-Gibran: Kartu Merah!
“Meskipun jaraknya jauh, partikel berenergi sangat tinggi yang dihasilkannya tetap berpotensi membahayakan astronot dan satelit di luar orbit rendah,” ungkap pengampu mata kuliah Teori Relativitas tersebut.
Ia juga menyoroti risiko dari sampah antariksa yang terus meningkat setiap tahun. Ribuan serpihan logam dan puing satelit di orbit dapat menabrak wahana antariksa aktif dan mengganggu sistem navigasi global.
Husin menegaskan, ancaman yang paling mungkin dalam waktu dekat adalah tumbukan asteroid berukuran sedang, badai Matahari ekstrem, serta paparan radiasi kosmik. Namun, ia optimistis bahwa kemajuan teknologi pemantauan dan kolaborasi internasional mampu mendeteksi risiko lebih dini.
Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap ancaman luar angkasa, Husin mengajak masyarakat ilmiah dan pemerintah untuk memperkuat riset pertahanan planet.
Baca juga: MK Batalkan Sanksi Bagi Masyarakat yang Berkebun di Hutan Tanpa Tujuan Komersial
“Perlindungan Bumi bukan hanya dilakukan dari dalam, tetapi juga dari luar. Menjaga rumah kita berarti memahami dan mengantisipasi ancaman dari semesta,” kata dia.
Positif dan negatif meteor jatuh
Sementara menurut Dosen Teknik Geologi UGM, Nugroho Imam Setiawan, meteorit yang jatuh ke Bumi menunjukkan wilayah Bumi bisa terkena dampak dari jatuhan batuan antariksa. Sebab posisi Indonesia berada di garis ekuator, di mana terdapat asteroid yang cukup banyak di sekitar ekuator.
Namun prediksi asteroid yang akan menabrak bumi pada 2032 yang diperkirakan akan menghancurkan sebuah kota membuat kekhawatiran masyarakat lebih besar. Di sisi lain, musibah yang terjadi dari dampak kejatuhan batuan tersebut, terdapat keuntungan yang bisa diambil dari peristiwa tersebut untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Nugoroho menjelaskan, kejatuhan meteorit memiliki dua sudut pandang yaitu berkah dan musibah. Jatuhan meteorit bisa menjadi berkah terutama dalam bidang ilmiah. Melalui meteorit, dapat diketahui informasi batuan dari tata surya dan yang ada di sekitar bumi, komposisi batuan, dan kandungannya.







Discussion about this post